images

okezone.com

Member Since 22/03/2016

Tulisan Lainnya

Resti Siti Saleha

Serpong
Member Since 22/03/2016

Cerita di Balik Lensa: Tentang Vonis Buta dan Kacamata Betty La Fea

Rabu, 23 Maret 2016
                                              
        Kacamata diibaratkan sebagai indra penglihatan kedua, yang apabila mata tidak bisa melihat sempurna, maka kacamata menjadi mutlak harus ada. Meskipun begitu, kacamata bukanlah barang cadangan, karena penggunaannya untuk orang-orang yang kesulitan melihat adalah mutlak dan perlu dirawat benar-benar. Merawat kacamata sama halnya seperti merawat barang yang lain, harus dibersihkan dan dilindungi agar tidak ada goresan dan terlihat kusam karena debu dan kecerobohan. Sebagai barang yang selalu digunakan, aku memiliki tips dalam merawat kacamata dan menjaganya selalu terlihat bersih dan cling. Berikut adalah tips agar kacamata kita semua yang terdiri dari lensa dan frame tetap awet dan bersih: 
  1. Kurangi lepas-pasang kacamata karena akan meninggalkan noda dan sidik jari pada lensa,
  2. Simpan kacamata di tempat aman dan strategis, jangan sampe kacamata rusak karena terduduki atau terhimpit barang yang lain, 
  3. Rutin membersihkan lensa kacamata dengan alkohol, karena aktivitas yang banyak tak disadari dapat membuat kacamata berdebu dan berminyak, membersihkannya dengan alkohol akan mengurangi kemungkinan mikroba dan partikel kecil membuat mata perih dan iritasi,
  4. Selalu bawa kotak wadah kacamata agar terhindar dari goresan ketika benar-benar harus melepaskan kacamata karena urusan tertentu, seperti beribadah, ke toilet, dan merasa mata lelah atau mengalami asthenopia. Lebih baik lagi, gunakan kacamata dengan fasilitas anti gores.
        Penggunaan kacamata tidak menjamin kondisi mata tetap stabil, sehingga adakalanya aku harus mengganti lensa kacamata karena tidak sesuai lagi dengan kondisi penglihatan. Oleh karena itu, aku harus cerdik dalam memilih lensa kacamata, salah satunya dengan mengetahui terlebih dahulu karakteristik dan keunggulan lensa kacamata yang hendak dibeli. Karena aku seorang mahasiswa yang aktivitasnya tidak terlepas dari penggunaan laptop dan praktikum di laboratorium, maka aku memilih lensa yang sesuai dengan kegiatanku, yaitu lensa dengan UV block yang cukup tinggi, mengaplikasikan high definition eyeglasses lenses yang dapat mempertajam penglihatan dan mengurangi silau/pantulan, anti embun atau uap, anti gores, dan berkualitas internasional. Dengan demikian, aku merasa nyaman dengan lensa kacamata yang aku gunakan, dan kegiatanku di kampus berjalan dengan lancar.    
        Sekarang, aku merasa nyaman menggunakan kacamata, selain membantu penglihatanku menjadi lebih baik, aku pun percaya diri dalam penggunaannya. Namun sebelumnya, ada cerita pilu yang terjadi dulu-dulu. Mataku memang bermasalah sejak kecil, tepatnya ketika tragedi menimpaku pada usia sepuluh bulan, dimana aku kecelakaan dan mataku divonis buta. Tetapi, orangtuaku tidak menyerah dengan vonis itu begitu saja, aku dibawa ke Rumah Sakit A, Rumah Sakit B, Rumah Sakit C, dan seterusnya. Namun, hasilnya nihil, mataku tidak bisa dibuka, seperti pintu yang dikunci rapat-rapat. Orangtuaku hampir-hampir menyerah, namun harapan masih saja membayangi untuk diperjuangkan. Hingga akhirnya, aku dirawat intensif di rumah sakit khusus yang menangani kerusakan mata. Aku pun berangsur pulih dalam waktu yang tidak sedikit, dari usia sepuluh bulan hingga kelas tiga sekolah dasar. Pada saat itu aku telah menggunakan kacamata, dengan frame yang berwarna hitam dan bulat. Tetapi, aku sungguh-sungguh malu dan benci dengan kacamata, kata mereka aku mirip Betty La Fea ketika berkacamata. Figur dalam telenovela tahun 1999 tersebut selalu dilibatkan dengan hidupku saat itu, aku benci itu, dengan alasan yang tidak kumengerti.
        Aku pun mulai melepaskan kacamata diam-diam, sehingga aku berkacamata hanya saat ketika ada orangtua. Selebihnya, aku lepas dan merasa bebas. Waktu terus melaju, tanpa sadar, aku telah benar-benar melepaskan kacamata, benda yang menggantung di telinga dan hidungku itu tidak lagi aku gunakan. Hingga akhirnya, ketika aku SMA, aku merasa tidak nyaman dengan penglihatanku, dan mimpi buruk kembali hadir. Kata dokter, mata kananku astigmatisma yang cukup tinggi, yaitu lima. Aku kaget, lemas, dan mulai berpikir yang tak keruan, seperti mendengar kabar yang benar-benar buruk. Setelah mendapatkan informasi tersebut, aku memeriksakan kembali mata secara rutin. Namun, semuanya terlambat, astigmatismaku terlalu tinggi untuk diupayakan sembuh dengan menggunakan prosedur LASIK, sehingga mau atau tidak mau, aku kembali harus menggunakan kacamata untuk sedikit membantu penglihatanku dan menjaganya tidak juling. 
        Kadang, aku tidak percaya semua ini, keenggananku berkacamata sewaktu kecil membuatku menjadi seperti ini. Tapi semuanya sudah berlalu, barangkali banyak faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi, dan meskipun sampai saat ini aku belum paham mengenai hubungan antara mata yang kecelakaan sewaktu kecil dan astigmatismaku yang tinggi saat ini, aku mengambil pelajaran bahwa setiap nasihat dan instruksi dari orang lain harus diperhatikan, seperti instruksi dokter agar aku menggunakan kacamata. Dan pada akhirnya, aku bersyukur dapat melihat dengan bantuan kacamata yang selalu setia menemani hari-hariku dan aku pun tidak takut lagi jika dipanggil Betty La Fea.         
 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • indah

    indah

    25 March 2016 at 21:13:PM

    Waw menarik