images

okezone.com

Amanah Nurtasari

Member Since 20/02/2016

Be Your Self dari Sepasang Mata Berlensa

Jum'at, 25 Maret 2016
Be Your Self dari Sepasang Mata Berlensa

Panggil saja aku Ana. Aku menggunakan kacamata ini sejak SMP. Kakakku yang perempuan dan laki-laki juga menggunakan kacamata, namun tidak dengan kedua orang tuaku. Sejak SD kelas IV aku memang merasakan ada yang berbeda dengan mataku, terasa buram setiap melihat jauh. Namun aku tetap berusaha melihat tanpa kacamata, karena aku merasa tak percaya diri jika gunakan kacamata, apalagi aku gendut. Hanya saja saat SMP, nilai-nilaiku kian menurun, ayah yang mengetahui itu mulai curiga dan akhirnya atas desakan ayah dan ibu, aku jujur bahwa mataku sepertinya cacat, yaitu Miopi (Rabun Jauh). Keesokan harinya ayah membawaku ke optik untuk periksa mata. Dokter matanya pun berkata

"Kok minus mata kamu udah besar? sudah sejak lama yah? harusnya jangan dibiarkan" (dokter menasehatiku)

"Iya pak, anak saya tidak mau jujur, takut pakai kacamata kayanya" (ayah menjawab pertanyaan pak dokter)

Aku hanya diam.

Tiga hari kemudian kacamata pesananku sudah jadi dan aku ambil bersama ayah di optik. Paginya aku ke sekolah dengan kacamata ini, deg-deg-an rasanya. ku mulai langkahku ini.

Saat tiba di sekolah, semua melihatku dengan tatapan bertanya-tanya.

Dan benar saja: "ahaha si gendut pakai kacamata, udah gendut pakai kacamata hahaha bulat kaya lontong" (seorang cowok membully ku)

Aku malu dan berlari menuju kelasku.

Ya! Aku minder...

Hari demi hari berlalu, bully demi bully masuk dalam kupingku. Aku hanya bisa murung setiba di rumah. Tapi malam itu aku terinspirasi oleh kakakku yang berkacamata juga, Ia giat belajar, tampak seperti seorang kutu buku. Dia hampir tak pernah lepas dari kacamatanya.

"Kak, bolah aku tanya?" (aku bertanya dengan pelan)

"Kenapa de?" (heran)

"Kenapa kakak tidak pernah lepas kacamata?" (bertanya-tanya)

"Kacamata ini banyak jasanya de, dia bantu aku dalam banyak hal, dia udah ikut aku banyak lewati event-event lomba, termasuk pas olimpiade se-Banten de. Tanpa dia, apalah jadinya aku dalam setiap event itu. You Can't Judge A Book By The Cover de, kacamata adalah penolong yang hebat, untuk apa minder kalau kita bisa berprestasi dan hebat dengan kacamata ini??? (Kakak menyemangatiku)

Aku tertegun, benar juga. ini bukan masalah fisik, tapi bagaimana kita membuktiakan, bukan?

Aku tersenyum.

Mulai saat itu aku terus giat belajar, aku selalu membawa kacamata ini, aku memakainya dan sangat khuatir saat dia ketinggalan karena tanpanya apalah jadinya aku yang sudah sangat nyaman bersamanya.

Di bully? I DON'T CARE!!!!

Hari itu aku ujian UN, namun lagi-lagi bully itu masih ada, bahkan saat itu aku sedang melepas kacamataku di meja, tiba-tiba ada seseorang murid cowok yang mengambil kacamataku.

"Ihhh kembalikan!!! (seruku)

"Coba aja kalau bisaaa, hahaha gendut mana bisa kejar" (meledek)

"Heeeiii kembalikannn, aku ga bisa liat nanti ujian" (aku semakin kesal dan mengejar)

Tiba-tiba...

PRAAAAANKK!!!!!!

Cowok itu jatuh dan kacamataku yang dia pegang patah karena tertekan. Dia hanya bisa diam, aku menangis dan merebut kacamata itu, kembalikan!!!!

Aku mengangis kembali ke kelas, sebentar lagi UN dimulai. Aku bingung. Sejenak aku diam dan berpikir.

Namun ku ingat bahwa ada lakban dalam tas ku, aku mencoba satukan gagangnya dengan kacamata itu. Aku berusaha untuk tetap ikuti UN dengan keyakinan dibalik usahaku selama ini, semua takkan sia-sia. Masih bisa di perjuangkan. Hari UN pertama pun selesai, namun saat di rumah aku tak berani berkata kepada orang tua soal kacamataku ini, karena hanganya pun lumayan mahal mencapai ratusan ribu. Aku hanya mengatakan aku sedang lelah gunakan kacamata maka melepasnya. UN pun berlalu selama 4 hari, seiring aku menggunakan kacamata dengan lakban itu. Walau akhirnya paska UN ayah dan ibu menemukan kacamataku yang patah itu dan membelikan bingkai yang baru.

Hari demi hari berlalu, tiba saat pengumuman UN, aku deg-deng-an saat di umumkan.

"Selamat yah, seluruh siswa dinyatakan lulus UN" (Ibu guruku mengumumkannya di depan semua siswa-siswi)

"HOREEEEEEE.."(kami teriak dan bersyukur dengan bahagia)

"Ada 1 lagi pengumuman khusus, ibu sangat bangga, karena ada seorang murid mendapatkan nilai tertinggi, walau dia adalah sosok yang pendiam namun dia membuat kejutan. Selamat Ya Ana, kamu jadi siswi yang meraih nilai terbaik". (Ibu guru tersenyum melihatku)

Ntahlah, tiba-tiba aku menangis, menangis bahwa usahaku tak sia-sia, setiap lelah ini, setiap keringat dan rasa takut yang ku lawan berhasil membuatku membuktikan tak ada batas yang tak bisa ditembus. Aku sangat berterimakasih atas keberadaan kacamata yang setia menemaniku saat belajar. semua murid mengucapkan selamat padaku, rasahnya membahagiakan. Aku tersenyum paling bahagia.

Saat semua mulai membubarkan diri untuk pulang, aku sangat ingin segera pulang untuk memberi kabar baik ini, namun cowok yang waktu itu mematahkan kacamataku menghadangku disuatu lorong. Aku tak tau apalagi bullynya kali ini, tapi aku kuatkan hati untuk berani!

Dia hanya diam.

Tak lama mendekat dan melihat dengan tajam.

Tak lama tangannya terulur.

"Aku minta maaf yah buat kacamata kamu patah waktu itu, Aku nyesel. Kamu hebat, selamat buat kelulusannya" (dia tersenyum)

Aku terkejut dan refleks diam.

Aku pun tersenyum menyambut tangan itu, kami berjabatan dengan senyuman yang saling terbalaskan.

"Iya aku sudah maafkan kok, terimakasih atas ucapan selamatnya. Lagipula kacamataku udah dibetulin. Selamat juga atas kelulusannya" (kami tersenyum lega).

Akhirnya hari itu aku belajar untuk berani keluar dari rasa takut dan berusaha bangkit membuktikan keberadaan diri. Terima kasih kacamata yang selalu setia, kau mengajariku banyak arti dan setia menemaniku menyusun masa depanku. Jangan pernah minder menggunakan kacamata  ya!!!!

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • Michael

    Michael

    30 March 2016 at 12:53:PM

    Matanya minus brapa??????