images

okezone.com

Thurneysen Simanjuntak

Lippo Cikarang - Bekasi
Member Since 19/03/2016

Kartini-Kartini Modern

Senin, 18 April 2016
Kartini-Kartini Modern

Hari itu adalah penerimaan raport di SMA kami. Di kelas kami, ada perasaan yang berbeda. Lagi-lagi para pria di kelas kami hanya bisa gigit jari. Ada yang merasa  tidak puas. Masalahnya, ketika wali kelas membacakan peringkat kelas, ternyata wanita yang berkacamata itu kembali meraih peringkat pertama di kelas. Para pria hanya ada di peringkat kedua dan ketiga.

Dari awal, kami sudah menduga kalau wanita itu memang anaknya pintar. Bukan karena kacamata tebalnya.  Tapi terbukti dalam kesehariannya ketika mengerjakan soal-soal hitungan berat pada mata pelajaran Fisika, Matematika dan Kimia. Hampir semua soal bisa dilahapnya dengan mudah. Bahkan pada pelajaran hapalan pun tidak ada yang bisa menandinginya. Daya ingat dan kemampuan menganalisanya memang luar biasa. Wajar dari kelas satu sampai kelas tiga SMA, tidak seorang pria pun mampu menggeser posisinya sebagai peringkat pertama.

Berlanjut pada pengalamanku dimasa kuliah. Sejak semester tiga, saya mulai aktif di organiasi kampus. Sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang kerohanian, menjadi pilihanku. Dari tahun ke tahun, wanita selalu mendominasi kepengurusan di organisasi tersebut. Kalau dihitung dalam persentasi, pengurus wanita bisa mencapai 80%. Bahkan koordinator (ketua) organisasi tersebut sering dipimpin seorang wanita. Konon, katanya wanita lebih mengandalkan perasaan daripada logika. Seolah-olah logika itu hanya milik pria saja. Nyatanya! Dalam menyusun program tahunan, para wanita tidak kalah logikanya dari para kaum pria. Saya kadang-kadang sampai geleng-geleng dan malu.

Tidak hanya disitu. Ketika sudah menyelesaikan perkuliahan, saya memilih merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Dibeberapa tempat saya bekerja, para wanita pun tetap mewarnai kehidupan pekerjaan. Tim kerja selalu didominasi para kaum wanita. Uniknya, dari tiga tempat kerja yang pernah saya singgahi, wanita selalu menjadi atasan  saya. Misalnya ketika bekerja di sebuah Non Govermenment Organization (NGO), team leader kami adalah wanita. Selanjutnya ketika bekerja di sebuah Lembaga Keuangan Non Bank, supervisor kami wanita. Bahkan hingga saat ini, ketika saya menjadi seorang guru, kepala sekolah kami juga adalah seorang wanita.

Melihat berbagai pengalaman tersebut, lengkap sudah, saya semakin yakin dan menyadari bahwa emansipasi wanita itu nyata. Pengalaman saya tersebut masih sangat kecil dibanding kenyataan yang kita lihat di negeri ini. Silahkan melihat di bidang pemerintahan, dari parlemen, presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, walikota, camat, hingga lurah, selalu ada wanita yang memimpin. Demikian halnya di bidang swasta. Dari komisaris, direktris, menejer, supervisor, kepala cabang, tidak luput dari sosok wanita. Di bidang sosial, wanita banyak yang memegang peran dan penggerak NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat). Di partai politik, wanita ada yang dipercaya menjadi ketua umum partai dan sebagai pengurus. Di bidang pendidikan, wanita berperanan sebagai dosen, dekan, guru dan kepala sekolah. Di bidang budaya, wanita menjadi artis hebat yang dikenal hingga ke mancanegara. Dan tentu masih banyak lagi.

Dengan kodratnya sebagai wanita, memang wanita masih tetap akan melahirkan. Dengan cintanya, wanita masih terus menjadi ibu bagi anak-anaknya, serta menjadi istri bagi seorang suami. Dia adalah sosok yang lembut dan tetap mengedepankan perasaannya. Tetapi perlu diingat, bahwa dengan kelembutan dan perasaan itu pulalah, wanita membuat berbagai kebijakan dan keputusan untuk kepentingan orang banyak, memimpin organisasi dan perusahaan,   melahirkan karya-karya besar bagi masyarakat.

Mungkin kalau RA Kartini masih hidup, dia pasti bahagia. Apa yang pernah diperjuangkannya, ternyata tidak sia-sia. Kartini Kartini modern itu sudah menempati berbagai profesi dan pekerjaan. Bukan hanya sebatas apa adanya. Tapi prestasi demi prestasi bagi masyarakat dan bangsa juga lahir dari wanita-wanita tersebut. Mereka telah mampu berkontribusi demi kemajuan negeri ini.

Tetapi tugas belum selesai. Belum apa-apa. Disisi keberhasilan wanita, tidak segelintir wanita yang mencoreng emansipasi tersebut. Tidak sedikit juga wanita yang masih mengalami penindasan dan penolakan diberbagai tempat. Ini adalah ‘PR’ wanita berikutnya! Berjuang agar emansipasi wanita tersebut tidak disalah artikan dan dapat dinikmati oleh seluruh wanita di nusantara ini.

Selamat Hari Kartini


sumber gambar : http://sman37.sch.id

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • sinta claudia

    sinta claudia

    18 April 2016 at 15:04:PM

    Yuk gabung sekarang juga bersama kami dapat kan cashback dan referal sekarang juga langsung aja klik http://goo.gl/57pmda

  • Thurneysen

    Thurneysen

    19 April 2016 at 06:57:AM

    Terimakasih kunjungannya Mbak Diah Ayu Kusuma Wardani

  • Nursepta E. Saragih

    Nursepta E. Saragih

    19 April 2016 at 08:15:AM

    Perempuan dan Laki-laki sama derajatnya dihadapan Tuhan, jadi sudah saatnya emansipasi itu ditegakkan. Sukses

Previous