images

okezone.com

Ilham Gunawan

Member Since 01/11/2016

Kekasih Tanah Air

Kamis, 10 November 2016
Kekasih Tanah Air

PAHLAWAN barangkali bukan sebatas 'bumbu' narasi sejarah. Tidak cukup jika diletakkan sebagai personifikasi belaka. Lebih luas dari itu, saya menempatkannya sebagai perwujudan 'organisme' kebajikan dalam sendi kehidupan sebuah bangsa dan Negara. Pahlawan bukan prasasti yang dibekukan dalam angka pada hari besar, lalu dianggap sebagai arsip berdebu yang habis perkara setelah iringan terompet dibunyikan.

Keberpihakan dalam memaknai 10 November sebatas arsip berdebu, masih amat begitu kental hingga sampai saat ini. Meski sudah diperingati sebagai hari pahlawan sebagai bentuk komitmen atas penghargaan terhadap kepahlawanan rakyat, sekaligus cerminan tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia. Saya rasa, masih perlu kiranya ada kecenderungan khusus secara luas dalam memahami arti kata 'pahlawan'. Bukan hanya lewat memaknai warisan yang ditinggalkan, atau pun pengorbanan yang telah diberikan, tetapi lebih dari itu. Ada tindakan yang lebih serius dari kita. Agar kiranya, momentum peringatannya tidak lagi dianggap sebatas pepesan kosong, seperti angin lalu.

Menjadi pahlawan bukanlah pekerjaan mudah. Karena, syarat awal yang harus dilakoni adalah berbuat suatu hal yang bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan bersama. Mampu memberikan kontribusi berskala makro terhadap keberlangsungan orang banyak. Lewat definisi yang amat dipersingkat, tindak kepahlawanan itu artinya bisa membunuh dan siap terbunuh. Bidang ini tertutup bagi mereka yang suka usia panjang. Itu sebabnya, jumlah pahlawan senantiasa lebih sedikit daripada penduduk kebanyakan. Oleh karenanya, pahlawan bagaikan zamrud di tengah-tengah batu kali. Maka dari itu, orang-orang yang tidak memadai bakatnya jadi pahlawan, lagi pula tak berkesempatan memalsu diri, begitu kata si burung Parkit, Mahbub Djunaedi. Karena seyogianya, pahlawan merupakan manifestasi keadilan dalam panggung semesta. Meski siapa saja berkesempatan bisa menjadi pahlawan di bumi ini. Bukan tanpa syarat. Bagi siapa saja yang siap dan memang berbakat. Tidak pandang bulu. Gelar ini begitu sakti. Bisa meluhurkan derajat diri siapa saja. Bangsat sekalipun. Siapa yang menolak? Kalau pun pantas, jelas, saya tidak. Kecuali Fir'aun, dia tidak pernah berminat. Ambisi satu-satunya hanyalah ingin menjadi Tuhan.

Pada masa Negara-negara imperialis menduduki tanah air, pahlawan hadir karena ingin mewujudkan bangsa yang merdeka. Karena ingin bangsanya bersatu, berdaulat secara utuh. Mereka lahir dengan nyawa di tangan. Mengesampingkan batasan antara hidup dan mati. Berpikir bahwa hidupnya saat itu adalah milik seribu kehidupan generasi mendatang. Tak banyak pilihan, tetap hidup sebagai kebijaksanaan atau gugur sebagai wangi bunga atau pun mati sebagai bangkai yang hina. Logika bukan lagi jadi prioritas, yang dibutuhkan hanyalah keberanian dan ambisi untuk merdeka. Ini bukan olah skenario fiktif. Ini adegan yang serius. Sama sekali bukan kepatutan untuk dianggap kejenakaan alat mengocok perut. Lebih serius daripada pertunjukan singa yang bisa melompati lingkaran api. Atau sebatas tembakan gas air mata yang berhamburan beberapa jengkal di atas kepala. Mereka benar-benar hidup-mati bukan sekadar membela bangsanya, namun juga untuk Negaranya. Benar-benar bertaruh nyawa demi para generasinya. Raganya, jiwanya, mereka sumbangkan sepenuhnya untuk berkibarnya merah putih di udara. Bukan malah menjadikan sarung atau jubahnya sebagai bendera partai politik semata. Mati yang memang benar-benar mati karena tekad perjuangan. Jihad dengan pengertian sebenarnya. Bukan mati dengan alasan yang 'katanya' kebenaran, namun melibatkan nyawa saudaranya sendiri yang tidak se-iman. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Saat nyawa seseorang dipasang harga murah. Lalu, pahlawan ada karena segala bentuk penindasan harus dimusnahkan, pahlawan juga hadir dalam rangka keberpihakan atas kaum minoritas yang dilucuti oleh kaum mayoritas. Pahlawan juga muncul untuk mengasah ketajaman hukum hingga merata. Pahlawan ada karena bangsa harus dicerdaskan. Pahlawan ada untuk mengikat partikular yang mulai lepas dari kesatuan. Pahlawan ada karena kaum wanita butuh hak kesetaraan. Pahlawan juga hadir karena keadilan sosial memang sepatutnya harus merata.

Kini, pasca perang usai, para veteran yang berkesempatan masih dikaruniai hidup bisa ikut menikmati hasil kemerdekaan, bersama generasinya. Namun disayangkan, biji-biji mata bangsanya yang satu ini, justru dijadikan pemain figuran di era penerusnya. Mereka disamarkan dari pahatan sejarah. Tidak banyak penghormatan yang diperoleh selain buah tangan yang tak seberapa nilainya. Sesekali cuma jadi hiasan saksi hidup, tak lebih. Atau yang paling sering adalah sebatas jadi pelengkap pada upacara-upacara peringatan, setidak-tidaknya. Mereka yang gugur, hidup abadi sebagai kebajikan. Ada yang memang diakui hingga kini, ada pula yang sengaja disembunyikan dari narasi sejarah. Bagai gula yang larut dalam kopi mendidih. Meskipun demikian, masih saja kerap ditarik-ulur tentang kepantasan jasanya, sebab pengertian pahlawan sudah dibatasi sebuah regulasi, sudah disederhanakan sedemikian rupa ke dalam butir-butir konstitusi.

Selanjutnya, gelar pahlawan beralih dimensi ke pundak orang-orang yang masih hidup. Berpindah era di mana umur lebih diperhitungkan di sini. Apalagi perang sudah termasuk jadi barang langka. Risiko kematian kadarnya lebih sedikit. Pencapaiannya lebih tergolong praktis, karena tidak perlu harus repot-repot mandi darah. Publik pun bisa lebih dengan mudah mengenal pahlawannya tanpa harus berduka cita terlebih dahulu. Tanpa harus terpaksa menyanyikan lagu Gugur Bunga karya Ismail Marzuki. Lebih gampang seperti memakan daging saat gigi masih komplit. Namun, terlepas dari itu semua, entah dulu atau kini, esensinya masih tetap sama. Ini tentang apa yang sudah diberikan terhadap bangsa dan Negara. Belum cukup hanya dengan taat bayar pajak. Atau hanya karena rajin menghibahkan suara pada setiap pemilihan umum. Dirasa belum lah cukup. Pada sisi yang berbeda, ada juga yang justru malah berusaha memanfaatkan situasi ini dengan mencoba memalsukan diri sebagai pahlawan. Bernapas dalam buku-buku yang dicetaknya sendiri. Memanipulasi sejarah. Pintar bermain akrobat. Merubah kebenaran menjadi kebohongan besar sebagai konsumsi publik. Sayangnya pahlawan yang satu ini gemar sekali bangun siang. Bahkan kelewat siang. Terlalu banyak begadang malamnya. Sibuk bermasturbasi dengan kursinya, sibuk jual-beli 'pesanan' mengatasnamakan ideologi bangsa. Ciri fundamental kaum pragmatis dan oportunis. Mereka suka sekali mencuci. Dari mulai mencuci tangan, mencuci uang, sampai mencuci 'dalaman' tetangganya. Namun pada akhirnya, tak ada yang bisa memalsu diri. Bangsat akan tetap hidup abadi sebagai kebatilan.

Pahlawan tetaplah pahlawan. Bangsa yang tidak mengakui jasa pahlawannya, sama halnya seperti membuat peti matinya sendiri. Terkecuali pahlawan kesiangan yang gemar bangun siang, itu jangan dihitung. Kalau pun sebagai personifikasi, para pahlawan lebih tepat disebut sebagai bunga sejarah, kekasih tanah air, mahligai bangsa, ketimbang sebatas 'bumbu' narasi sejarah. Gelar sakti ini berisi kumpulan orang-orang hebat, pelaku keberanian, pengorbanan serta pengabdiannya yang agung. Sebagai bangsa yang besar, sudah sepatutnya untuk menghargai dan meneladani jasa pahlawannya. Itu merupakan sebuah hal wajib. Semangat mereka masih relevan hingga saat ini. Saya kira, dengan diperingatinya hari pahlawan, bukan sepenuhnya untuk memuliakan semata. Tapi, (masih) ada teguran bermakna 'titipan' yang harus tetap diteruskan perjuangannya oleh generasi pahlawan selanjutnya. Mudah-mudahan.

 

Ilham Gunawan

Pengurus GP Ansor Haurgeulis, Indramayu.

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • Muttabi'in

    Muttabi'in

    11 November 2016 at 14:42:PM

    PAHLAWAN adalah PAPAH jangan diLAWAN.

  • khilman

    khilman

    12 November 2016 at 14:49:PM

    pahlawan :) http://obatsinusitis.agaricpro.info/

  • khilman

    khilman

    12 November 2016 at 14:49:PM

    pahlawan :) http://obatsinusitis.agaricpro.info/