images

okezone.com

Achmad Hazmy

Jalan Jeruk 2 Nomor 208 Perumnas 1 Bekasi
Member Since 10/11/2016

Tulisan Lainnya

Achmad Hazmy

Jalan Jeruk 2 Nomor 208 Perumnas 1 Bekasi
Member Since 10/11/2016

Revitalisasi Kepahlawanan

Kamis, 10 November 2016

Saat mendengar kata pahlawan, mungkin sebagian besar dari kita akan membayangkan desingkan peluru serta darah yang tertumpah ke tanah di medan perang. Tak salah memang imajinasi seperti itu. Pahlawan memang menjadi sebuah penggambaran sosok yang berjasa di medan perang dengan pengorbanan jiwa dan raganya. 

Namun demikian jika telah usai sebuah peperangan, apakah akan dapat muncul sosok sosok pahlawan baru ? Tentu saja. Spektrum pahlawan amat luas dewasa ini, tak hanya terbatas pada konotasi medan perang dengan darah dan peluru, namun juga merambah ke dunia lain seperti pendidikan, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Ada keberanian dan pengorbanan yang tercantum disana. Selain itu, kepahlawanan diartikan sebagai  perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).

Dalam ranah atau medan apapun terdapat potensi untuk muncul orang yang memiliki sifat sifat mulia ini. Seorang dokter yang berjuang dan rela berkorban menegakkan derajat kesehatan di tempat terpencil atau seorang guru yang berjuang dan rela berkorban mengajar di tempat tempat yang jauh di pedalaman dengan kondisi penuh tantangan adalah contoh dari mereka yang memiliki sifat kepahlawanan di luar medan perang.

Esensi dari jiwa kepahlawanan masih sangat diperlukan di alam kemerdekaan ini. Keberanian, keperkasaan, rela berkorban, dan kekesatriaan adalah sifat yang tak pernah luntur di makan zaman. Ia menembus batas batas medan perang, menjalar di setiap dimensi kehidupan masyarakat dan melahirkan banyak sekali tokoh tokoh pahlawan tanpa desingan peluru.

Adalah satu bencana besar apabila sifat sifat ini memudar dalam kehidupan keseharian. Dapat dibayangkan satu bentuk kehidupan tanpa rasa keberanian, rasa rela berkorban, rasa keperkasaan dan rasa kekesatriaan terjadi di masyarakat. Egoisme dan rasa memetingkan diri sendiri akan mendominasi dan mengganti semua sifat sifat mulia itu, dan tentu saja itu bukanlah satu kondisi yang kita harapkan terjadi.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Itulah sebaris kalimat yang memiliki makna dalam dan sakral. Hanya dengan memiliki sifat sifat kepahlawananlah para pejuang tanah air dapat membebaskan negeri ini dari cengkraman para penjajah. Para pejuang tersebut kental dengan keberaniannya, rela berkorban, ksatria, keperkasaannya. Mustahil  cita cita kemerdekaan negeri ini akan tegak berhasil menghadapi berbagai tantangan berat apabila para pendahulu tidak memiliki sifat sifat tersebut

Zaman telah berubah, kini tidak ada lagi desingan peluru dan darah tertumpah. Alam kemerdekaan telah menyelimuti kita semua. Namun demikian bukan berarti sifat kepahlawanan ini harus lenyap. Penghargaan atas jasa para pejuang dahulu harus dimaknai dalam bentuk terbaiknya, yaitu dengan cara melestarikan jiwa kepahlawanannya hingga saat ini. Bangsa yang telah merdeka memiliki banyak sekali tantangan dan perjuangan di alam kemerdekaannya. Bangsa ini harus mampu mempertahankan kemerdekaan dalam makna yang sebenarnya serta mengisinya dengan berbagai langkah maju. Hal ini sangat membutuhkan keberanian dan kerelaan berkorban karena tidak dapat dipungkiri, banyak sekali pihak yang tak ingin bangsa ini menjadi merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya.

Musuh dari sifat kepahlawanan adalah sifat egois dan pengecut. Berbagai kebobrokan yang terjadi pada perjalanan suatu bangsa terutama kejahatan korupsi selalu bermula dari ketiadaan sifat kepahlawanan itu. Sifat pengecut dihadapan gertakan bangsa asing hingga rela kekayaan bangsanya sendiri diambil alih oleh asing adalah contoh lain dari lenyapnya kepahlawanan.

Revitalisasi sifat kepahlawanan adalah hal wajib yang harus menjadi agenda besar bangsa ini. Perwujudannya bisa melalui berbagai cara, antara lain melalui struktural pemerintahan, pendekatan kemasyarakatan hingga penggunaan teknologi informasi terkini.

Pendekatan struktural pemerintahan bisa dilakukan dengan membangun sistem yang dapat melakukan dua hal, pertama mencegah kejahatan korupsi sebagai dampak dari ketiadaan siifat kepahlawanan, lalu yang kedua menumbuhkan sifat kepahlawanan secara kontinu di seluruh jajaran pemerintahan serta alat negara. Singkat kata, pemerintah dapat membangun sistem yang mampu mengikis sifat egois dan pengecut untuk berubah menjadi kejahatan korupsi kolusi dan nepotisme dan kemudian membangun sifat sifat berani, rela berkorban, kesatria dan lain sebagainya. Hal ini bisa ditempuh dengan cara memperketat sistem pidana dan hukuman bagi para pelaku kejahatan KKN disisi lain membangun ingatan kolektif jajaran pemerintahan tentang jasa jasa para pahlawan yang gugur di medan perang hingga kesadaran untuk tidak menyimpang menjadi  tumbuh subur.

Pendekatan kemasyarakatan dapat ditempuh dengan selalu memberikan contoh terbaik bagaimana mempraktikkan sifat kepahlawanan itu. Hal ini akan menjadi lebih mudah jika jajaran pemerintahan telah kompak mempraktikkannya terlebih dahulu melalui pendekatan struktural pemerintahan. Masyarakat, dengan melihat contoh yang dilakukan oleh pemerintahnya, lambat laun juga akan mengikuti. Bukankah kekacauan yang selama ini terjadi juga sedikit banyak akibat masyarakat melihat contohnya langsung bagaimana kacaunya jajaran negara menjalankan pemerintahan ?

Teknologi informasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari revitalisasi sifat kepahlawanan ini karena kini kita hidup di zaman keterbukaan dan kemajuan teknologi. Berbagai propaganda dan seruan pemerintah dapat disebarluaskan melalui media online, televisi atau radio. Pemerintah dapat membuat channel online khusus,  mengenai bukti bukti sifat kepahlawanan telah dipraktekkan oleh jajaran aparat negara, menyeleksi siaran televisi dan radio hanya boleh menampilkan tayangan yang sarat sifat kepahlawanan secara terus menerus kepada masyarakat. Jika hal ini dilakukan secara kontinu, maka akan tertanam dalam alam bawah sadar masyarakat dan lambat laun akan menjadi bagian dari perilaku masyarakat. Hal ini telah dibuktikan di banyak negara maju seperti Jepang dan Jerman, dimana sifat kepahlawanan yang ditunjukkan para pemimpinnya akhirnya diikuti oleh rakyatnya, bahkan hingga membuat kita iri dan berharap pemimpin kita dapat juga seperti itu.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, dan langkah yang paling tepat untuk dilakukan saat ini adalah merevitalisasi sifat kepahlawanan itu dan menanamkannya dengan kontinu di dalam benak jajaran pemerintah dan masyarakat luas.


Achmad Hasmy

Pegiat Karang Taruna dan Alumni Magister Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Universitas Indonesia

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login