images

okezone.com

Personal Growth

Perkantoran Aries Niaga Jl. Taman Aries Niaga Blok A1/1B Jakarta Barat 11620
Member Since 29/02/2016

Ayah Ibu Bekerja, Salahkah?

Kamis, 12 Januari 2017
Ayah Ibu Bekerja, Salahkah?

Tinggal dan hidup di Negara berkembang seperti Indonesia, khususnya di kota-kota besarnya seperti Jakarta, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Semua harga barang kebutuhan pokok tinggi, apalagi kebutuhan sekunder dan tersier-nya. Ingin pendidikan yang bagus? Biaya sekolah pun menjulang tinggi dan anehnya semakin mahal sekolah, seringkali orang tua menganggap sekolah itulah yang terbagus.

Kondisi ini menyebabkan seolah-olah nafkah yang dicari dan dikumpulkan oleh para suami tidak pernah cukup. Tidak jarang, para istri pun terpaksa harus turun tangan turut bekerja membantu para suami untuk memperoleh kehidupan rumah tangga yang baik, yang tentunya lebih dari sekadar kata cukup. Hal ini tentu berdampak pada anak-anak, yakni mereka terpaksa harus diserahkan atau dipercayakan pada orang lain, seperti pembantu rumah tangga atau pengasuh anak.

Lalu, salahkah mereka pasangan suami istri yang bekerja dan mempercayakan anak-anaknya pada pengasuh tersebut? Uppss, tunggu dulu. Tentu kita tidak dapat menyalahkan orang tua begitu saja. Bukankah mereka bekerja juga untuk anak-anak? Agar kebutuhan anak-anak selalu tercukupi dan anak tidak mengalami kesulitan di kemudian hari? Hmm, tapi kebutuhan apakah yang dimaksud oleh para orang tua ini ya?

Berbicara mengenai kebutuhan, masih banyak orangtua yang hanya memfokuskan pada terpenuhinya kebutuhan fisik anak, seperti sandang-pangan-papan, juga kognitif anak seperti edukasi. Mereka seolah-olah lupa bahwa anak juga memiliki kebutuhan emosional. Mereka butuh merasa disayangi. Mereka butuh merasa dihargai. Mereka butuh merasa diakui dan diperhatikan, serta berbagai macam kebutuhan perasaan lainnya.

Para pakar psikologi perkembangan menyatakan hal yang sama. Mereka mengemukakan bahwa individu baru dapat dikatakan berkembang secara optimal jika perkembangan aspek fisik, kognitif, dan sosial-emosionalnya berkembang secara selaras. Jadi, jika hanya kebutuhan fisik dan kognitifnya saja yang tercukupi dengan baik, sementara kebutuhan sosial-emosionalnya terabaikan, anak belum dapat dikatakan berkembang dengan baik. Bahkan tidak terpenuhinya kebutuhan sosial-emosional dapat menyebabkan anak mengalami berbagai macam gangguan, seperti rendahnya self-esteem, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan perilaku, dan lain sebagainya.

Sebaik apapun kehidupan anak, setinggi apapun status sosial ekonomi yang dimiliki, dan sebagus apapun sekolah yang didatangi anak, percayalah gangguan sosial dan emosional akan menyebabkan anak tidak mampu berfungsi secara optimal di lingkungan. Misalnya saja anak yang memiliki self-esteem rendah. Mereka akan cenderung menghindari penilaian sosial dan memilih menarik diri. Mereka ragu mengembangkan bakat yang dimiliki dan memilih menutup diri. Tidak jarang, mereka juga mengembangkan penilaian negatif mengenai diri sendiri dan hal ini dapat merambat pada gangguan-gangguan lainnya.

Oleh sebab itu, orang tua sangat boleh bekerja untuk menjamin pemenuhan kebutuhan anak-anak. Bahkan wajib hukumnya. Namun, orang tua juga harus mempertimbangkan bagaimana memenuhi kebutuhan sosial-emosional anak ini di tengah kesibukan yang dimiliki orang tua. Jika orang tua menghindar atau menolak artinya orang tua bekerja bukan untuk anak, melainkan untuk keegoisan diri sendiri. Ya, untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, bukan untuk anak.

Nah, sebagai masukan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua bekerja untuk tetap menjamin kebutuhan sosial-emosional anak ini terpenuhi. Pertama, pastikan orang tua tetap mampu meluangkan waktu untuk beraktivitas secara berkualitas bersama anak, sekurang-kurangnya 30 menit dalam satu hari. Singkirkan seluruh gadget pada saat interaksi tersebut berlangsung agar keintiman sungguh-sungguh dapat terasa. Kedua, bangun komunikasi secara efektif bersama dengan anak-anak.

Ketiga, berusahalah untuk mengembangkan kasih dan empati dengan anak. Sadari bahwa waktu yang dimiliki orang tua bersama anak sangat terbatas. Orang tua lebih menghabiskan banyak waktu di luar rumah dari pada di dalam rumah sehingga nikmatilah waktu secara sungguh-sungguh saat bersama dengan anak. Jika di waktu tersebut anak melakukan kesalahan, berusahalah untuk tidak memberikan kritik atau teguran secara berlebih melainkan koreksi anak dengan memberikan contoh perilaku secara konkret.

Terakhir, upayakanlah agar orang tua dan anak memiliki aktivitas bersama di luar ruangan pada saat akhir pekan, misalnya dengan bersepeda bersama, mencuci kendaraan bersama, bermain basket, dan sebagainya. Mengapa? Karena aktivitas luar ruangan akan menjamin kejiwaan orang tua dan anak tetap waras di tengah hiruk pikuk kota besar dan kepadatan aktivitas masing-masing di hari kerja.

 

Oleh:

Monica Sulistiawati, M.Psi., Psikolog

Clinical Psychologist of Personal Growth

www.personalgrowth.co.id

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login