images

okezone.com

iin Suwandi

Member Since 27/09/2016

Anak Tukang pangkas Rambut jadi Tentara

Selasa, 17 Januari 2017

Untuk masuk menjadi seorang Tentara tentunya suatu hal yang tidak mudah dan pasti ada tantangannya. Biasanya masuk Tentara dengan proses yang ketat seperti tes Kesehatan, Akademik, Psikologi dan Kesegaran Jasmani. Jika standar itu tidak terpenuhi dapat dikatakan peluang untuk lulus semakin kecil. Untuk itulah tes Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi standar dalam penerimaan prajurit untuk menjadi benteng NKRI.           


TNI dalam menerima calon tidak melihat kaya dan miskin. Yang penting syarat-syarat yang ditentukan telah dipenuhi. Seperti halnya yang dialami M. Yahya yang hanya merupakan tukang cukur. Ia berhasil meloloskan anak perempuannya untuk diterima di Akademi Militer (Akmil) Magelang Tahun 2016 beberapa waktu yang lalu. Ini menandaskan bahwa siapapun yang memiliki kemampuan dan memenuhi persyaratan untuk masuk TNI pasti akan diterima. Artinya kesan budaya suap masuk TNI kini pelan namun pasti hilang seiring dengan sikap transparansi dalam setiap penerimaan calon siswa.    


Kita patut bersyukur bahwa TNI dalam menyeleksi penerimaan prajuritnya dilakukan secara transparan sehingga dapat menekan keberadaan para calo yang hendak memanfaatkan situasi.  Persyaratan dan komitmen yang menjadi barometer terus dibenahi oleh TNI. Sehingga untuk masuk menjadi anggota TNI masyarakat tidak lagi direcoki dengan hal suap-menyuap yang justru akan merusak citra TNI di mata masyarakat.


Seperti yang telah dimuat di salah satu situs media TNI AD beberapa waktu yang lalu. Pak Yahya merupakan pria tua Putra Aceh kelahiran 10 Oktober 1937. Profesi keseharian beliau adalah tukang pangkas rambut. Kakek tua yang kini berusia 80 tahun ini untuk menafkahi keluarganya sehari-hari bekerja di kios usaha pangkas rambut milik orang lain.  


Pak Yahya mencoba peruntungan ketika tahun 2016 mencoba mendaftarkan putrinya untuk menjadi anggota Taruni Akademi Militer. Hasilnya Desi Gebrina Rezeki saat ini sedang menjalani pendidikan dan   menjadi seorang Taruni Akademi Militer angkatan 2016 di Magelang.    Dengan diterimanya Desi yang orang tuanya berprofesi sebagai tukang cukur memberikan hikmah tersendiri bagi masyarakat. Bahwa siapapun yang memenuhi persyaratan dan ia mau bekerja keras dan latihan pasti akan bisa mencapai harapan dan cita-citanya.  


Dan, kisah Pak Yahya seorang tukung cukur yang putrinya diterima di Taruni Akademi Militer TNI ini bukan yang pertama tetapi sudah banyak kisah-kisah lain yang kerap kita lihat di berbagai media tetapi dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda. Jadi bagi yang ingin menjadi abdi negara atau TNI tidak usah ragu atau takut, silahkan mencoba, tidak dibutuhkan biaya suap/ sogokkan dan tidak dipungut biaya sepersenpun juga alias gratis. Semoga semakin banyak lagi yang akan mengikuti jejak Pak Yahya di masa yang akan datang.

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login