images

okezone.com

Member Since 20/03/2017

Tulisan Lainnya

made ngurah suragangga

Karangasem
Member Since 20/03/2017

Mengapa Ragu Membawa Anak Mendaki Gunung?

Senin, 20 Maret 2017

Bayi, balita, anak-anak, bahkan seorang individu yang baru menginjak remaja tidak bisa dianggap remeh. Mereka adalah individu yang terus bertumbuh dan harus diperhitungkan setiap gagasan, pemikirannya, masalahnya, terkait apapun yang tengah dihadapinya. Peran anak-anak ini bukan tidak lebih penting dari peran orang tua di dalam keluarga. Anak-anak bukan seorang yang melulu diam, menurut, mangut saja, dan tidak perlu didengar. Sebab itulah, anak-anak harus diperlakukan layaknya berkomunikasi dengan orang dewasa. Orang tua harus mendengar, memahami, dan memberikan solusi terbaik atas apa yang dipikirkannya, diucapkannya, juga yang menjadi masalahnya.

Akhir tahun kemarin, seorang ibu memperlakukan anaknya layaknya teman dewasa. Hal yang dilakukannya cukup ekstrem dan tidak banyak ibu yang berani melakukannya, terlebih untuk buah hati yang amat dicintainya. Adalah drh Nyoman Sakyarsih yang tiba-tiba mendadak terkenal dan viral terkait aksinya yang cukup berani membawa buah hatinya Max, mendaki sedikitnya 16 gunung. Cukup banyak reaksi yang ditimbulkan. Di antaranya, banyak orang tua yang terkejut, prihatin, merasa khawatir, dan paling banyak adalah reaksi inspirasi untuk orang tua melakukan hal yang sama pada buah hatinya. Yaitu mengajak sang buah hati melakukan traveling, mendaki gunung atau menikmati alam bebas yang di dalamnya penuh petualangan dan pemaknaan hidup.

Kisah lain dari orang tua tentang memberikan pendidikan yang berarti kepada anak lewat jalan traveling dilakukan oleh pasangan suami istri Paul dan Caroline King. Orang tua ini memiliki pandangan yang berbeda 180 derajat dari orang tua pada umumnya, khususnya di Indonesia. Paul dan Caroline King memutuskan untuk tidak memasukkan anak mereka ke sekolah dan memilih mengajari mereka lewat traveling keliling dunia. Tentu, bukan berarti sekolah tidak penting. Pasangan ini telah menghabiskan 19 bulan terakhir untuk mengunjungi 15 negara bersama kedua anak mereka, Winston (6) dan Henry (4). Paul dan Caroline bahkan menjual rumah mereka yang terletak di Cambridgeshire, Inggris seharga Rp 4,7 miliar untuk biaya mengelilingi dunia sambil mendidik anak-anak mereka. Menurut Paul dan Caroline, traveling merupakan cara belajar yang lebih efektif dibanding hanya dengan membaca buku di kelas. Pasangan ini juga tidak percaya dengan sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah setempat. Mereka mengklaim, anak-anak mereka lebih maju daripada anak-anak lain seusia setelah mereka belajar lewat traveling. Setiap mengunjungi berbagai negara itulah Paul dan Caroline mengajari anak-anaknya banyak hal, seperti membaca, belajar kebudayaan, dan sejarah.

            Terinspirasi dari dua kisah orang tua di atas dalam memperlakukan anak-anaknya juga memberikan pendidikan lewat traveling, rasanya bukan mustahil diwujudkan oleh orang tua di Indonesia. Tidak perlu ke luar negeri yang menghabiskan pundi-pundi rupiah yang banyak. Cukup jalan traveling di dalam negeri saja. Pengetahuan dan wawasan tentang budaya, sejarah, sosial, pendidikan, ilmu saintis pasti bisa diraup sebanyak-banyaknya. Indonesia memiliki Bali. Anak-anak yang anda cintai bisa belajar budaya, adat, dan harmonisasi di Bali. Tidak perlu belajar teori lagi, anak-anak sudah bisa melihat praktiknya langsung dan pengetahuan ini akan kekal dalam ingatan mereka. Di belahan utara, Indonesia memiliki Wakatobi. Anak-anak bisa belajar tentang bahari dan pengetahuannya yang maha luas. Indonesia punya Pulau Komodo. Tempat ini akan menempa anak-anak menjadi seseorang yang lebih menghargai budaya dan situs sejarah. Masih banyak tempat di Indonesia yang tidak habis dikunjungi 7 turunan.

            Mamah-mamah muda (Mahmud) harus memaksa diri untuk memberikan pendidikan alternatif yang menarik untuk anak-anak. Orang tua harus mampu meninggalkan kebiasaan mewah dengan mengunjungi tempat-tempat kekinian yang cenderung berbau komersial. Di tengah traveling kekinian yang menghabiskan waktu di mall, pusat perbelanjaan dengan merek terkenal, mahal, tidak akan mengajarkan apapun pada anak-anak, kecuali pemborosan. Ibu muda ini harus berdiskusi dengan sang buah hati mengenai apa yang disukainya dan mengenalkan tantangan-tantangan baru selain menjadi konsumen di negeri ini. Ingatlah, orang tua sejatinya harus mempersiapkan anak-anaknya untuk terlepas darinya. Dengan kata lain, anak-anak harus dituntut mandiri, disipilin, cerdas, kreatif, sejak dini. Sebab soal kehidupan ternyata tidak mudah.  Ada tantangan, kesedihan, air mata, kemarahan, putus asa, yang harus dilalaui anak-anak anak-anak nantinya. Mereka harus dipersiapkan menjadi sosok manusia tangguh dan dewasa hingga zaman tak lantas menggilasnya begitu saja.

Jangan Ragu Khasiat Traveling

Ternyata dengan traveling, bisa menambah cerdas seorang anak yang mungkin selama ini orang tuanya tidak mengetahui ada bakat kecerdasan itu dalam diri sang anak. Banyak hal baru yang anak-anak bisa dapatkan dari traveling. Dengan traveling anak-anak akan mampu berpikir lebih luas, dan meningkatkan kepandaian seseorang menjadi lebih unggul.

Saat anak-anak berkeliling atau travelling, ia akan berjumpa dengan beberapa orang hebat, beberapa orang yang memberikan inspirasi, orang baik serta orang aneh. Juga pastinya akan berjumpa dengan beberapa orang yg tidak dipahami oleh anak-anak. Tetapi hal itu tidak selamanya bermakna jelek. Tiap-tiap orang memiliki alasan kenapa mereka serta siapa mereka. Di sinilah peran pendampingan orang tua untuk memberikan pemahaman bahwa setiap orang yang hadir dalam kehidupan ini memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Dengan begitu, anak-anak ini akan lebih menghargai arti kehadiran orang-orang sekitar. Banyak pengetahuan yang akan diberikan oleh orang baru dengan komunitas baru. Pengetahuan itu akan tiba dalam beragam bentuk, dari mulai mempelajari ketrampilan baru serta meningkatkan kekuatan, lalu belajar bagaimana caranya untuk memutuskan di kondisi yang susah. Ketrampilan sosial anak-anak akan bertambah, serta mengakibatkan komunikasi hari esok anak-anak semakin lebih baik serta sangat mungkin anak-anak untuk pelajari selanjutnya mengenai beberapa orang yang ada di sekitar anak-anak. Pemahaman anak-anak pada semua jenis ciri-ciri orang membuat anak-anak jadi seorang yang open-minded serta menghormati semua perbedaan.

Traveling ke daerah-daerah atau jika punya cukup dana, traveling ke luar negeri misalnya, akan menambah kosa kata dan bahasa baru bagi anak-anak. Mereka akan belajar secara praktis tanpa melulu dijejali teori. Praktik berbahasa secara langsung bisa mereka terapkan dan hasilnya sangat memuaskan. Bukankah anak-anak yang masih memiliki pertumbuhan otak yang baik juga harus dilatih untuk menguasai bahasa sebanyak-banyaknya? Ya..traveling ke alam bebas jadi salah satu metodenya. Peran orang tua juga sangat massif di mana orang tua bertindak sebagai filter. Bahasa yang baik yang diupayakan dipelajari. Perihal kosa kata buruk, tidak santun, anak-anak tak perlu mengetahuinya.

Anak mana yang tidak suka makanan? Anak-anak biasanya identik dengan cokelat, manisan, gulali, serta mainan. Jadi, memanfaatkan ketertarikan anak dengan makanan ini, bisa memicu orang tua berkreasi memasukkan pengetahuan di dalamnya. Traveling memungkinkan anak-anak mencoba semua jenis makanan serta minuman yang baru. Dengan indera pengecapnya, anak-anak akan belajar cara mencicipi rasa setiap makanan atau kuliner khas sebuah daerah. Kuliner ini juga sarat akan pengetahuan, sejarah, dan budaya. Perut kenyang, wawasan anak pun bertambah.

Traveling menjadi ampuh untuk mengajarkan arti penting toleransi kepada anak-anak. Misalnya, saat anda mengajak buah hati anda traveling ke satu di antara pedalaman Kalimantan, kamu lihat sebagian besar penduduknya yaitu penganut Kaharingan. Tetapi, saat hari raya Idul Adha, dengan suka hati mereka menolong umat Muslim menyembelih hewan qurban serta mengamankan proses beribadah. Saat itu anda mengerti, walau mempunyai kepercayaan yang tidak sama, nyatanya toleransi serta hubungan kerja dapat tetaplah tersambung erat.

Demikian menginjakkan kaki ditempat baru, anak-anak selekasnya berjumpa dengan rekan-rekan baru dengan budaya, bahasa serta ciri-ciri yang tidak sama. Anak-anak ini akan terlatih untuk jadi pribadi yang supel serta gampang bergaul. Makin kerap lihat serasi dalam keberagamanan, jadi makin subur rasa toleransi di dalam hati anak-anak.

Alam bebas seperti gunung tidak dipungkiri akan membuat anak cepat belajar tentang alam. Selain itu kelak diharapkan agar ia lebih mencintai alam. Anak-anak yang dilatih dan diajak berpetualang sejak dini akan mengingat hal-hal paling indah selama hidupnya. Bukankan akan sangat menyenangkan jika hal indah itu terekam bersama orang tuanya, bersama ayahnya dan ibunya? Siapa yang tak ingin diingat oleh anak-anaknya sebagai orang tua paling keren yang mereka memiliki. Jika memilih pegunungan, anak-anak akan dibentuk mentalnya menjadi pribadi yang bisa menerima kondisi yang berbeda dengan yang mereka dapatkan di rumah. Rasa nyaman di rumah merupakan zona nyaman, tapi kondisi sulit dan penuh tantangan saat travelling akan mengajarkan anak-anak makna beradaptasi dalam segala kondisi.

Belajar mandiri dan menemukan diri dalam traveling adalah harapan setiap orang tua yang utama. Orang tua bisa memberikan tanggung jawab kecil mulai dari membawa ransel mereka sendiri hingga menyiapkan barang-barang travelling yang harus mereka bawa sendiri. Bukankah impian semua orang tua agar anaknya mandiri? Travelling model ini juga membantu orang tua dalam menanamkan emosi positif bagi anak-anak. Terutama saat pertama kali mencoba sesuatu untuk pertama kalinya. Bahkan momen untuk naik eskalator untuk pertama kalianya pun bisa jadi merupakan pengalaman paling indah saat anak-anak. Siapa yang dapat menyangkanya? Selain itu akan membuat anak-anak belajar untuk percaya diri dengan kemampuannya. Saat orang tua memberikan kepercayaannya pada anak-anak dan mereka akan dengan bangga menunjukkan bahwa mereka bisa membanggakan kedua orang tuanya. Berikan kepercayaan pada mereka dan jadikan rasa percaya diri tumbuh dari dada mereka sendiri.

Sekian banyak manfaat positif traveling bersama anak-anak di alam bebas, baik pegunungan maupun lautan. Namun, dampak positif ini akan tertunaikan apabila pendampingan orang tua berperan penuh. Orang tua tidak menyiakan kesempatan emas ini untuk mengajarkan anak-anak menemukan diri yang sejatinya. Jangan sampai kegiatan yang tadinya akan menyenangkan berubah jadi bencana. Untuk itulah perlu dipersiapkan secara matang dan tuntas.  Orang tua harus mengetahui lebih dulu bagaimana situasi pegunungan yang akan didaki. Ini berlaku bagi semua orang bahkan yang sudah sering mendaki. Mengajak balita ke tempat wisata alam seperti gunung hendaknya tidak hanya menjadi ajang pamer antar orang tua. Tidak lucu bukan jika para orang tua adu foto di instagram tentang liburannya sementara balita yang diajak tidak menikmati bahagianya.

Tak ada keluarga yang sempurna, tapi saat travelling bersama dan mendapatkan kebahagiaan, disitulah orang tua dan anak-anak akan merasa menjadi keluarga paling beruntung yang sempurna. Begitu juga yang akan dirasakan oleh anak-anak. Mereka berpikir bahwa mereka memiliki keluarga hebat. Cobalah

 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login