images

okezone.com

Elif Pardiansyah

Jalan Paseban Timur Gg. 6 No. 28 Paseban, Kec. Senen Jakarta Pusat
Member Since 18/05/2017

Elif Pardiansyah

Jalan Paseban Timur Gg. 6 No. 28 Paseban, Kec. Senen Jakarta Pusat
Member Since 18/05/2017

Langkah Strategis Meningkatkan Pertumbuhan Perbankan Syariah di Indonesia

Senin, 22 Mei 2017
Langkah Strategis Meningkatkan Pertumbuhan Perbankan Syariah di Indonesia


Gairah kebangkitan ekonomi umat tidak terlepas dari adanya keadaran akan pentingnya kebutuhan sandang pangan dan papan secara adil dan berkelanjutan. Bermula dari kesadaran akan penting dan cinta nya terhadap al-Quran yang menyatukan tekad, menggerakan jutaan orang untuk menyuarakan isi hatinya yang tergores. Kesadaran dan kecintaan inilah yang menjadi jembatan (washilah) berbagai keinginan, melupakan berbagai perbedaan di tubuh internal ummat Islam dan menumbuhkan rasa percaya diri bahwa kekuatan ummat melalui penyatuan spiritual yang didukung dengan sumber daya manusia, finansial, informasi dan manajemen organisasi dapat menggerakan masa yang begitu banyak, akibat rasa senasib dan sepenanggungan.


Paska aksi tercetus ide mengikat spirit ummat yang begitu menggebu dengan berbagai inisiatif gerakan yang berkelanjutan. Dari situlah muncul gerakan shalat subuh berjamaah kemudian gerakan kebangkitan ekonomi ummat degan mendirikan jaringan toko ritel kita mart di Bogor, mendirikan koperasi syariah 212, bahkan sempat muncul wacana pembentukan bank Islam 212 (Republika, 28 Desember 2017).


Yang lebih mengejutkan lagi, selang beberapa bulan setelah rangkaian aksi umat Islam diatas, ada setitik cahaya harapan untuk menjawab problematika ekonomi yang dihadapi umat, yaitu dengan diselenggarakannya Kongres Ekonomi Ummat (KEU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat pada tanggal 22 hingga 24 April 2017. Kongres Ekonomi Ummat diikuti oleh berbagai elemen umat dengan berbagai latar belakang, mulai dari pengusaha, praktisi ekonomi, asosiasi ekonomi, perguruan tinggi, ormas Islam, hingga MUI pusat dan MUI daerah duduk bersama mencari solusi terbaik bagi keberlanjutan ekonomi umat.


Kongres ini menghasilkan beberapa poin penting yaitu, pertama, menegaskan sistem perekonomian nasional yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi. Kedua, mempercepat redistribusi dan optimalisasi sumber daya alam secara arif dan keberlanjutan sesuai dengan amanat UUD 45 pasal 33. Ketiga, memperkuat sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing tinggi berbasis keunggulan IPTEK, inovasi, dan kewirausahaan sehingga dapat bersaing menghadapi pasar terintegrasi seperti MEA. Keempat, menggerakkan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi pelaku usaha utama perekonomian nasional. Kelima, mewujudkan mitra sejajar usaha skala besar dengan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam sistem produksi dan pasar terintegrasi. Keenam, memastikan ekonomi syariah dalam perekonomian nasional, tetap dalam koridor Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Terakhir, membentuk Komite Nasional Ekonomi Umat untuk mengawal Arus Baru Perekonomian Indonesia.


Semangat Kongres Ekonomi Umat dan gerakan koperasi syariah 212 tidak jauh berbeda dengan cita-cita dan tujuan ekonomi syariah yaitu, tercapai kemaslahatan dan kemuliaan umat dengan berdaya dan merdeka secara ekonomi. Kesadaran inilah yang mesti terus dijaga dan dikobarkan, dengan semangat berjamah, maka potensi umat akan mudah untuk diekplorasi. Karena sejatinya, menurut pandangan penulis, ruh giroh Kongres Ekonomi Umat dan gerakan koperasi syariah 212 adalah bagian dari perjuangan ekonomi syariah, ibaratnya merek berbeda tetapi isinya sama.


Namun demikian, gairah umat Islam tersebut lahir disaat kinerja industri keuangan syariah sedang mengalami stagnansi, jalan di tempat dan jauh dari harapan. Sejak tahun 2013 industri perbankan syariah mengalami perlambatan, pangsa pasar perbankan syariah seakan tidak mau beranjak dari angka kramat 5%. Sama halnya dengan pasar modal syariah, sukuk dan reksadana syariah hingga akhir 2014 belum mencapai porsi yang signifikan, yaitu masih dibawah angka 5% dibanding dengan total produk pasar modal konvensional. Begitupula dengan asuransi syariah yang masih berada diangka 5,05% dari industri asuransi nasional pada tahun 2016. Para pemangku kepentingan industri keuangan syariah seharusnya lebih peka menangkap momentum kesadaran umat, untuk menarik simpati pasar potensial industri keuangan syariah tersebut.

Rasanya tidaklah sulit apabila melihat pangsa pasar potensial 207 juta umat muslim, atau 87,2% dari total 237 juta populasi masyarakat Indonesia. Namun demikian, diperlukan langkah strategis untuk menarik minat pasar potensial terebut agar tahu, sadar dan mau berpartisipasi dalam pengembangan industri keuangan syariah. Otoritas Jasa Keuangan telah menyadari betul permaslahan yang dihadapi industri keuangan syariah, khususnya perbankan syariah adalah rendahnya tingkat kesadaran dan minat masyarkat terhadap industri ini.


Kenapa perbankan syariah? Karena sektor ini merupakan motor penggerak perekonomian suatu bangsa. Sesuai dengan visi mulia OJK pada roadmap perbankan syariah 2015-2019, yaitu menjadikan bank syariah sebagai kontributor pembangunan ekonomi bangsa. Namun demikian, walaupun pembahasan strategi pertumbuhan perbankan syariah sudah berjalan cukup lama, bahkan sudah berbagai program dilakukan dan direncanakan, termasuk wacana menggabungkan 3 Bank flat merah menjadi 1 Bank BUMN syariah guna mendongkrak pangsa pasar (market share) industri perbankan syariah. Pada akhirnya, sebelum wacana ini terealisasi, pro dan kontra muncul, ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Penulis termasuk yang tidak setuju akan wacana ini. Menggabungkan 3 bank BUMN hanya untuk mendongkrak market share rasanya tidak tepat. Banyak faktor yang mempengaruhi permaslaahan ini selain modal dan akses yang terbatas, diantaranya kesadaran dan kemauan dari calon nasabah itu sendiri.

Untuk meningkatkan pangsa pasar pada momentum kali ini, dalam kacamata penulis, pelaku perbankan syariah harus bisa membaca peluang yang ada dengan melakukan inovasi produk yang lebih dibutuhkan umat, melakukan ekplorasi pasar yang masih belum maksimal, dan fokus pada segmentasi mikro, dan mulai dengan gerakan kesadaran umat bahwa ekonomi syariah adalah ekonomi umat.


Pertama, inovasi produk sebagai kunci perbankan syariah untuk melakukan penetrasi yang lebih kompetitif, lebih berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan umat. Keberhasilan dan kejayaan (izzah) perbankan syariah dimasa depan akan tergantung pada seberapa inovatif perbankan syariah menyajikan produk-produknya dalam rangka memberikan kemudahan transaksi, kemudahan akses, dan kemudahan berafiliasi yang dibutuhkan masyarkat.


Inovasi produk harus menjadi strategi prioritas perbankan syariah, sebab inovasi memiliki peran penting di tengah pasar yang semakin kompetitif. Produk perbankan syariah sekarang ini cendrung statis tidak mengalami perubahan signifikan, hanya terbatas pada tabungan, deposito, giro, pembiayaan murabahah, mudharabah, syirkah, dan ijarah. Harus dilakukan variasi dan kombinasi agar memilki daya tarik lebih selain karena keterikatan emosional semata.


Bank syariah harus segera melakukan pengembangan produk dan layanan yang fokus pada segmentasi ritel konsumtif dan ritel produktif, seperti layanan pembayaran dan pembelian menggunakan e-money (cash less) yang menggunakan teknology Near Field Communication (NFC). Bank syariah juga harus memanfaatkan digitalisasi industri, seperti financial technlogy (fintech), seperti menyediakan layanan sosial, zakat, infak dan sedekah, kerjasama dengan lembaga filantropi Islam yang sedang mengalami perkembangannya. Menyediakan layanan manajemen keuangan pribadi, layanan market place untuk produk konsumtif maupun produktif dan investasi  bekerjasama dengan merchant yang beragam namun tetap slektif. Kecendrungan orang untuk bertransaksi di bank ritail dilakukan melaui internet banking, smartphone, dan ATM telah membuka mata kita bahwa kompetisi telah beralih ke arah digital, dimana kemudahan bertransaksi adalah aspek yang sangat penting dan dibutuhkan umat saat ini.

Kedua, ekplorasi pasar perbankan syariah masih rendah dan belum maksimal. Bank Indonesia  mengeluarkan data yang mengejutkan, dimana hanya 20% orang dewasa yang memilki rekening bank. Angka ini sejalan dengan data dari Badan Pusat Statistik bahwa jumlah pemilik rekening bank sbanya 60 juta orang. Artinya potensi untuk meningkatkan pangsa pasar bank syariah masih cukup terbuka, bila melihat data diatas dimana penduduk Indonesia sekitar 237 juta jiwa, masih ada 2/3 dari penduduk Indonesia yang belum tersentuh oleh bank. Walau demikian, tidak semua masyarakat layak (feasibel) untuk meiliki rekening karena terkendala berbagai faktor. Oleh sebab itu, bank syariah dituntut untuk mampu meningkatkan kompetensi di bidang teknologi dan informasi digital disertai dengan kemampuan memperoleh data yang akurat sehingga bank syariah mampu mengenali dan menganalisis kebutuhan pasar dan memahami perubahan perilaku nasabah, terutama pada segmen ritel dan UMKM seperti yang di rekomendasikan pada Kongres Ekonomi Umat 2017.


Ketiga, perbankan syariah harus fokus bersaing pada segmentasi usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah menjadi pelaku usaha utama. Keunikan bank syariah dibanding bank tetangga adalah pada peran bank syariah itu sendiri. Secara prinsip keuangan Islam, bank syariah tidak hanya sebagai lembaga intermediary, tetapi juga sebagai investor aktif (musyarakah) dan invetor pasif (mudharabah), atau sebagai penyalur dana bantuan kebaikan (qard). Idealnya dengan prinsip seperti itu, perbankan syariah slengkah lebih maju dalam hal penyediaan dan penyaluran modal atau dana usaha, terutama pada segmen usaha kecil dan mikro (UKM). Namun dalam prakteknya perbankan syariah lebih banyak memberikan pembiayaan dengan akad jual-beli (murabahah).


Telah banyak penelitian mengenai porsi akad yang dipakai di bank syariah, dimana pembiayaan bank syariah diominasi oleh akad murabahah. Pelaku perbankan syariah seakan tidak mau mengambil risiko pembiayaan dengan menmanfaatkan akad-akad jenis investasi. Oleh sebab itu, pelaku perbankan syariah dituntut untuk lebih kreatif  dalam membuat model bisnis baru yang ber-genre profit/loss sharing. Mungkin ada baiknya berlaborasi dengan fintech dan pelaku usaha mikro berbasis komunitas agar lebih terbuka dan partisipatif untuk diajak kerjasama.


Keempat, Gerakan kesadaran umat sebagai sarana untuk memperkenalkan sistem ekonomi syariah kepada umat dan bahwa perbankan syariah adalah bagian dari ekonomi umat. Kita bisa melihat antusiasme umat dalam aksi 411, 212, dan aksi lainnya yang di teruskan dengan gerakan shalat subuh berjamaah, gerakan ekonomi berjamaah melalui pembentukan koperasi syariah 212, dan jaringa toko ritel swalayan syariah Kita Mart menandai kesadaran dan kebangkitan ekonomi umat. Kesadarn ini sangatlah penting, karena sesuai dengan penrnyataan OJK mengenai isu strategis yang dihadapi perbankan syariah adalah rendahnya kesadaran dan minat masyarakat/umat akan pentingnya sistem ekonomi syariah ini.


Pelaku ekonomi syariah dapat mengambil momentum di tahun 2017 ini, dengan menggandeng berbagai elemen lapisan masyarakat. Membumikan dan mengenalkan ekonomi syariah dalam rangka menstimulus kesadaran akan pentingnya ekonomi dan perbankan syariah, diantaranya dengan gerakan dzikir ekonomi syariah oleh para tokoh agama dan masyarakat di acara kmasyarakatan, majelis talim dan lain sebagainya. Gerakan semacam ini diharapkan dapat mengedukasi dan memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya bekerja dan berdaya secara ekonomi, dan pada akhirnya akan memicu umat untuk beralih ke sistem ekonomi syariah termasuk di dalamnya perbankan syariah.

Dzikir adalah sebuah aktifitas ibadah dalam umat Muslim untuk mengingat Allah. Diantaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah, dan dzikir adalah satu kewajiban yang tercantum dalam al-Qur'an. Bacaan zikir yang paling utama adalah kalimat "Laa Ilaaha Illallaah".


Sebagaimana ekonomi syariah, seluruh aktifitasnya bermuara pada tuhan (tauhid), dengan demikian berekonomi syariah merupakan wasilah untuk terus mengingat Allah. Memuji Allah tidak hanya berarti melafalkan subhanallah, dengan kita mengikuti sistem ekonomi syariah dapat diartikan memuji Allah dengan sistem ekonomi langit yang sedemikian hebat. Kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam konteks dzikir ekonomi syariah adalah meyakini bahwa tidak ada sistem ekonomi yang kuat dan tangguh selain Ekonomi Islam yang asaskan nilai-nilai tauhid. Wallahu alam bishowaaab.

 

Elif Pardiansyah

Awardee LPDP PK 103

Mahasiswa Pascasarjana 

Ekonomi dan Keuangan Syariah

PSKTTI - Universitas Indonesia


 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • Roro

    Roro

    22 May 2017 at 15:58:PM

    benar sekali, sekarang semakin marak sekali mengenai ekonomi syariah, bahkan koprasi syariah sudah masuk ke kampung2 ..