images

okezone.com

Hana Purwadi

Member Since 21/01/2016

TERAS RUMAH YANG SUNYI

Senin, 22 Mei 2017
Lelaki tua dan perempuan tua. Duduk semeja. Memandangi sore yang biasa. Tapi hari ini tampak berbeda. Serasa berbeda.

Terkenang seorang putrinya. Dia biasa mondar-mandir di teras rumahnya. Mereka akan memanggilnya. Dan sang ibu yang mula-mula memintanya membantu menyelidiki bagian-bagian di rambutnya yang gatal.

Ibu sudah ubanan, tukas dia sambil jari-jemari tangannya menelusuri helai demi helai rambutnya.

Masa? Perasaan ibu baru melahirkanmu, balas ibunya dengan canda sambil melepaskan kegeliannya sendiri.

Lihat ubannya dimana-mana. Ibu kalau dibilangin suka ga percaya, anak perempuannya tetap ngotot. Dia memang mendapati banyak rambut yang putih-putih.

Jangan-jangan itu bukan uban. Coba perhatikan lagi, sang ibu masih menggoda anak gadisnya.

Ibu, aku masih bedain mana uban, mana yang bukan.

Ada berapa juta, nak, uban ibumu?, lelaki tua yang akhirnya ikut bersuara.

Istrinya sadar suaminya turut mengomentari ubannya, komentar yang nyinyir.

Bapak gak usah ikut-ikutan. Hitung juga berapa banyak uban bapak.

Suaminya hanya tertawa. Ia lalu memanggil anaknya.

Sudahlah kamu gak usah urusi uban-uban ibumu yang bakal tumbuh-tumbuh terus itu. Biar ibumu sadar itu tanda dia makin tua. Sayangnya dia suka lupa, dia ketawa lagi. Sore belum hendak berganti malam. Masih ada sekian menit untuk dilintasi sehingga sampai matahari benar-benar tenggelam dan adzan berkumandang.

Anak perempuannya juga ikut tertawa pelan. Tapi segera diam. Tidak sopan bagi anak perempuan untuk tertawa keras dan lama-lama. Terlebih lagi harus menertawakan orang tuanya.

Bapak mau dipijat lagi?, anak gadisnya mengerti. Dia langsung berpindah dari sebagai petugas penyelidik dan pencabut uban-uban rambut ibunya menjadi memijat bapaknya. Dia merasa senang dibutuhkan kedua orang tuanya untuk hal sederhana ini. Kebersamaan yang tiap sore menguatkan kehangatan dari keluarga kecil ini.

Kemarin sore pijatanmu bagus bisa mengembalikan bagian-bagian kekuatan bapak yang hilang hehe. Besok bapak harus bantu si Pardi buat membajak sawahnya. Bapak butuh tenaga lagi, tutur bapaknya.

Pake sandiwara. Bilang saja mau minta pijat, balas ibunya sambil sibuk menyisir sendiri rambutnya yang tak sedikit putihnya.

Di teras rumah sore itu, anak perempuannya hanya senyum-senyum melihat tingkah kedua orang tuanya.

***

Suatu kali, di teras rumah itu, anak perempuannya bertanya: bapak, besok aku kelas tiga MTs, aku boleh melanjutkan ke Madrasah Aliyah kan?

Kedua bapak dan ibunya hanya saling tatap sebentar. Mereka berdua sesungguhnya merasa berat hati. Ada rahasia yang tak diceritakannya.

Kan masih lama, nak, ibunya menyahut akhirnya.

Setahun lagi, bu.

Ya gak apa-apa. Semoga ibu sama bapakmu bisa membiayaimu.

Pokoknya aku mau melanjutkan sekolah. Nanti aku janji tidak mau banyak jajan. Biar aku tidak banyak bikin beban bapak dan ibu.

Bapak dan ibunya hanya diam. Mereka menyadari hanya seorang petani biasa. Untuk menyekolahkan anaknya hingga tamat tingkat MTs saja, bukan perkara bagi mereka. Dengan hanya modal sebidang tanah, sapi dua ekor milik orang tapi dipercayakan kepadanya dan kerjaan lain yang serabutan, kadang mereka harus pontang-panting untuk membiayai kebutuhan anaknya.

Tapi tetangga di sekitarnya menyekolahkan anak-anak perempuan mereka. Banyak yang melanjutkan sekolah hingga aliyah. Itu sebabnya meskipun berat, mereka menyetujui anaknya yang ingin melanjutkan ke aliyah. Apalagi mereka sadar, anak perempuan mereka tak pernah manja, bersungguh-sungguh. Sejak SD, dia selalu menabungkan uang jajannya. Sehingga pada waktu ada kebutuhan mendesak, dia bisa menggunakan tabungannya.

Juga yang penting, mereka tau anak perempuannya, saat tumbuh sebagai remaja putri yang cantik, tak pernah terdengar menjalin hubungan cinta atau pacaran. Sesekali bila ditanya, dia hanya menjawab: orang tuaku pasti sedih saat mendengar nilai-nilai pelajaranku buruk. Dan aku tak boleh sekolah lagi.

***

Teras rumah adalah tempat favoritnya menghabiskan sore. Hampir setiap hari, menjelang maghrib, mereka duduk bersama mengakhiri aktifitas mereka dan menyambut maghrib.

Aku tadi pagi bertemu ibu guru cantik, cerita anak gadisnya, Dia bercerita banyak tentang pendidikan. Dia benar-benar memberiku motivasi. Dia bilang: seorang ibu harus pendidikannya tinggi. Harus pinter. Biar nanti kalau jadi istri, dia tidak jadi beban buat suaminya.

Sang ayah membenarkan dalam hati dan ia tertawa pelan. Sementara ibunya bereaksi lain.

Bapak ngga usah ketawa. Lulusan SD saja kok ketawa, ucap ibunya yang tersinggung dengan suaminya.

Mungkin ibu salah denger. Bapak cuma sampai kelas 4 SD. Ya waktu itu sih udah tinggi, tinggi sekali. Bapak bisa baca, bisa berhitung meski sekedarnya, perkalian sekedarnya.

Ibu juga sekolah SD. Sampai kelas tiga. Gurunya ajah galak dan aku sering dimarahin. Jadi aku pikir waktu itu apa gunanya sekolah. Ibu juga bisa baca.

Kok jadi ibu sama bapak yang berantem sih?, tanya anak gadisnya.

Bapak dan ibunya saling bersitatap. Mereka saling bingung sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

Terus gurumu bilang apalagi, nak?

Ibu guru bilang: anak perempuan tak perlu merasa kalah dari anak laki-laki. Anak perempuan harus bisa bersaing. Kesempatan belajar itu sama.

Di kampung ini, kesempatan belajar bagi anak perempuan memang tidak sebanyak anak laki-laki. Jurang ketimpangan antara kesempatan belajar anak laki dan perempuan sangat lebar. Anak perempuan sudah beruntung jika sekolahnya sampai aliyah. Sementara anak-anak laki sudah merasakan kesempatan belajar di perguruan tinggi. Jumlahnya jauh lebih besar. Alangkah sedihnya anak-anak perempuan yang cita-citanya setinggi anak laki-laki. Di kampung ini, anak-anak perempuan cenderung dijodohkan begitu saja saat usianya dianggap telah matang. Rata-rata setelah lulus aliyah. Ada juga yang baru lulus MTs. Orang-orang tak merasa terganggu apakah tradisi seperti ini menghambat kemajuan atau tidak? Tapi sebagian kalangan yang mengerti pendidikan mulai menyoal di sana-sini. Mereka keberatan dengan perlakuan tidak adil.

Ibu gurumu tidak bilang, nak, kalau anak perempuan itu tak boleh kelamaan sekolah, nanti gak dapet jodoh kalau ketuaan?.

Sang ibu berharap gurunya menjelaskan itu agar anak perempuannya tak berfikir tinggi-tinggi sekolahnya. Mereka pikir sekolah tinggi itu aliyah. Itu yang penting. Dengan membandingkan diri mereka yang hanya bahkan tak lulus sekolah dasar, sekolah tinggi hingga aliyah itu sudah luar biasa bagus. Mereka juga melihat anak-anak tetangga, hanya yang benar-benar berkelebihan uang misalnya yang orang tuanya bekerja sebagai TKI di Malaysia atau di Arab Saudi, yang berhasil membangun rumah bagus-bagus yang melanjutkan anak-anaknya untuk kuliah.

Pada waktu itu, umumnya orang-orang memandang kuliah itu tidak penting. Setinggi aliyah diyakini sudah cukup. Diperkuat pula dengan pertimbangan dari pidato-pidato orang-orang penting seperti kiai dan ustadz-ustadz: ilmu itu yang penting diamalkan. Tak perlu banyak, tak perlu tinggi-tinggi. Yang penting diamalkan. Kalau banyak, kalau pun tinggi-tinggi, kalau tidak diamalkan, ya apa gunanya, toh.

Orang-orang kampung pada waktu itu mengangguk-angguk membenarkan saja wejangan itu.

Ibu guru tidak bilang begitu, jawab sang anak dia bilang belajar itu tidak ada batas usia. Kita boleh mengejar ilmu kemana pun bahkan ke negeri Cina. Menuntut ilmu boleh saja hingga akhir hidup.

Ibu dan bapaknya diam. Semua itu benar. Semua itu pernah juga disampaikan oleh para kiai, oleh para ustadz.

ibu, aku nanti juga mau kuliah.

Waktu itu, bapak dan ibunya tak menanggapi celotehan anak perempuannya itu. Dia baru kelas dua MTs. Aliyah saja baru kalau nasib baik. Kalau tidak, anak perempuan sepertinya tak perlu tinggi-tinggi.

***

Rupanya sang anak tak butuh tanggapan. Dia menyusun sendirian cita-citanya. Dia memendamnya sambil terus belajar yang baik. Di kamarnya, dia memiliki koleksi buku yang cukup banyak. Kakak lakinya yang kuliah di luar kota setiap kali pulang membawakannya buku-buku. Dia sangat bahagia. Buku-buku itu dihitungnya setiap kali dia pulang ke rumah. Bila ada yang ganjil, dia langsung bertanya pada ibunya: dimana buku aku satu lagi?

Dia selalu mengenang ibu gurunya yang memberinya wejangan: sekolahlah yang tinggi-tinggi. Tak ada alasan sebagai orang kampung, kita tak sekolah. Tapi setiap kali itu diceritakan kepada bapak atau ibunya, mereka berdua tak pernah menanggapi serius. Mereka berdua hanya selalu bilang: kewajiban bapak dan ibu sudah selesai sampai di sini untuk pendidikan. Ilmumu sudah tinggi. Tinggal sekarang bagaimana mengamalkannya.

Ibu sama bapak kan nanti bangga kalau aku jadi sarjana.

Ibu sama bapak sudah bangga sama kamu. Tak perlu tinggi-tinggi. Ibu sama bapak sudah tua, sudah waktunya menimang cucu.

Ibu menyuruh aku tunangan dan menikah?.

Sudah sejak dari dulu, ibu dan bapak mau cerita. Kamu sudah kami jodohkan.

Perempuan muda itu kaget. Dia sungguh-sungguh tak percaya. Dia bertanya lagi. Dia menangis dengan keputusan ini.

Perjodohan kalian telah kami pertimbangkan sebaik-baiknya. Ibu dan bapak punya hubungan baik dengannya. Anaknya baik.

Perempuan muda itu tetap tidak terima. Baginya perjodohan tanpa keinginannya sebaik apapun pertimbangan orang tuanya tetaplah sebuah keputusan yang tidak tepat. Dia tidak terima. Dia memberontak.

Kamu disekolahkan biar jadi anak baik-baik, taat pada orang tua, kalau tidak nurut sama orang tua, apa artinya?.

Patuh kepada orang tua adalah ucapan paling ampuh diucapkan orang tua kepada anaknya. Kata-kata itu mengandung kekuatan menaklukkan setiap kemungkinan perlawanan yang datang dari anak. Pengecapan tidak patuh kepada orang tua atau durhaka kepada orang tua seringkali efektif untuk menaklukkan setiap anak yang hendak melawan. Memang, sementara kata itu tampak benar. Kata-kata itu sering juga disitir dalam ceramah-ceramah ulama. Orang tua wajib dihormati. Pandangan-pandangannya perlu didengarkan. Tapi ada yang tak disampaikan dengan jelas: apakah perihal pendidikan, saat sang anak melawan, memberi pertimbangan lain pada keputusan orang tua, apakah itu berarti sang anak melawan? Dan ia harus memperoleh cap durhaka?

Bagi mereka, anak-anak, yang tak menyelidiki lebih jauh ucapan tidak patuh kepada orang tua atau durhaka, bisa tunduk begitu saja. Mereka akan segera menata kembali pikirannya. Mereka akan mencari-cari alasan di balik ketundukannya. Dia harus menemukan kekuatan moral untuk mengikuti apa kemauan orang tuanya. Maka mereka mengimajinasikan dengan baik: apa yang dikatakan orang tua adalah sebuah wujud cinta, mereka tidak akan merugikan anak-anaknya, menghormati keputusan orang tua mengandung sebuah sikap yang disayang tuhan, tuturan-tuturan orang tua pastilah mengandung kebenaran, dan beragam imajinasi yang lain.

Tapi baginya, patuh pada orang tua bukan seperti ini caranya. Dia merasa keputusan yang diambil oleh orang tuanya adalah keputusan yang sewenang-wenang. Perjodohan bukanlah perkara mengikat saja. Tanpa rasa cinta, tanpa persetujuan hati kedua orang yang dijodohkan, perjodohan tak lebih sebuah pemenjaraan.

Waktu itu, memang dia baru kelas tiga MTs. Tapi dia mengerti, perjodohan minus pertimbangan dia yang akan menjalaninya, keputusan semacam apa?

Setiap kali liburan, setiap kali pulang ke rumah, perempuan ini akan menjalani kebiasaan sebagai seorang yang diikat pertunangan. Dia harus menjadi orang lain setiap kali mengikuti bagian-bagian kecil dari tradisi pertunangan. Dia menjalani masa-masa pertunangan seperti seorang tahanan. Pertunangan seperti sebuah pemenjaraan. Dia terpaksa dan berpura-pura bersikap manis di depan calon suami dan calon mertua.

Pertunangan membuat kedua keluarga terjalin semakin akrab dan beberapa kebiasaan kecil terjadi: sang tunangan dari pihak lelaki tidak sungkan-sungkan untuk silaturahmi ke rumah tunangan perempuan atau sebaliknya. Mereka memang tidak boleh berduaan sebelum disahkan sebagai suami istri. Tapi dalam keadaan terpaksa, jika harus seorang lelaki yang mengantarkannya, dan sementara bapak atau ibu dari perempuan itu tidak bisa menemaninya, tunangannya diperbolehkan untuk menemaninya.

Perempuan itu harus berpura-pura manis untuk sekedar tidak merusak kebahagiaan kedua keluarga. Jika ketahuan dia bersikap tidak manis, menunjukkan rasa benci, menunjukkan ketidaksetujuan atas perjodohan ini, sang ibu yang sangat peka akan memberinya pelajaran penting. Dia akan merasa panas mendengar pelajaran dari ibunya yang penuh dengan marah.  Selepas itu dia akan menangis meratapi diri di kamarnya.

Jika sesekali tunangannya datang, bapaknya akan menyambutnya dan mempersilahkan duduk. Ibunya dengan senang hati menyiapkan kopi atau bila ada disuguhkan hidangan kepadanya. Ibunya menunjukkan perhatian yang tinggi kepada calon menantu. Tak lupa dia akan memanggil anak perempuannya untuk sekedar menyambutnya. Perempuan itu terpaksa keluar kamar untuk sekedar memberikan kopi yang sudah dibuatkan oleh ibunya. Dia harus melakukan ritual itu secara terpaksa, secara sinis. Dia harus menunjukkan raut wajah yang bahagia meski sesungguhnya itu terluka. Sebuah drama. Sebuah dagelan. Pura-pura bahagia. Sebenarnya luka di dalam.

Berapa lama dia bisa bertahan?

***

Di teras rumah ini, ibu sama bapaknya marah-marah saat dia menyampaikan keinginannya untuk kuliah. Mereka bersikukuh menikah adalah jalan yang terbaik. Mereka menilai, dengan marah, bahwa kuliah bukan yang utama. Menikah adalah harga mati. Kedua orang tuanya pikir saat aliyah selesai, dia hanya harus menikah. Tak ada jalan lain.

Pikiran itu jelas ditentang oleh perempuan itu. Dengan hati yang letih, dia memohon:

Bukankah perjodohan ini sesungguhnya bukan kehendakku? Lalu dengan berat hati, aku mengiyakan. Bukankah perjodohan ini di luar perasaan cinta? Lalu aku bersusah payah menerimanya. Aku melakukan semua ini demi kebahagiaan ibu sama bapak. Aku berkorban perasaan demi kalian. Dan aku tidak pernah berfikir untuk mempermalukan ibu dan bapak. Aku hanya meminta satu hal, berilah kesempatan aku kuliah sebelum menikah. Seperti cerita ibu guru, aku ingin menjadi istri yang pintar yang tidak sekedar jadi beban buat suami. Itu saja.

Siang itu, teras rumah rumah sudah berubah sama sekali. Tak ada kebahagiaan dari sudut pandang anak gadis itu. Dia melihat kedua orang tuanya berubah sepenuhnya: mereka tak lagi lembut. Ucapannya begitu keras. Sebaliknya, bagi kedua orang tuanya, anak gadisnya telah tumbuh sebagai pribadi yang penentang, liar, dan melenceng dari harapan besar orang tuanya. Dua kemauan yang berbeda, yang tak sejalan.

Aku tidak bisa mengizinkan kamu kuliah. Menikahlah saja, ucap lelaki tua itu. Ibunya membenarkan.

Bapak dan ibu kini terlihat seperti dua orang yang asing baginya. Dua orang yang sangat dekat dan sangat dia sayangi kini terlihat berpihak kepada kenyataan lain yang tidak selaras dengan keinginan hatinya. Berdekatan dengan mereka seperti dibayang-bayangi pengekangan, ada ketidakbahagiaan saat mengingat sikap kedua orang tuanya perihal pertunangan.

Apa yang dikhawatirkan jika aku memilih menempuh kuliah sebelum menikah?

Kedua orang tuanya tak memiliki alasan yang kuat. Saat mereka berfikir anak perempuannya bisa jatuh cinta kepada orang lain, bisa berkhianat atas pertunangannya, sebenarnya itu tidak memiliki alasan yang kuat. Sejak dia dinyatakan sebagai telah dipertunangkan, dia tak pernah terdengar menghianati itu. Dia tetap memegang teguh pertunangan yang dipaksakan itu. Dia tidak memberontak. Jika ada satu cinta sejati yang kini susah untuk dirubah adalah kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Dia tak pernah berubah sedikit soal masa depannya: melanjutkan ke perguruan tinggi.

***

Tapi dia tak sendirian. Pikiran-pikiran yang tak selaras dengan orang tuanya mendapat pembelaan. Beberapa kakaknya yang mengerti situasi ini berusaha mengambil jalan untuk bersuara di pihak anak gadisnya. Mereka berusaha untuk meyakinkan bahwa pendidikan itu penting. Itu sebabnya bila dia mau melanjutkan kuliah, adakah yang salah? Hanya karena tak menikah? Jika menikah muda bukan pilihannya, masihkah pikiran konyol dipertahankan untuk memaksa kehendaknya?

Suatu kali, kakaknya yang tertua bertengkar hebat. Suatu malam. Sang kakak berada dalam posisi membela adik perempuannya yang dalam belenggu perjodohan.

Apa yang ada di pikiran bapak sehingga harus membelenggu anaknya dengan pertunangan yang tak berguna itu?, ucapnya marah. Suasananya tegang. Wajah pemuda itu merah. Tangannya yang kiri menuding-nuding ke arah lawan bicaranya. Dia lupa. Marah yang tak terkendali menyebabkannya lupa untuk bersikap seperti biasa: penuh tata krama. Jelas bapaknya tak suka. Darahnya segera menggelegak.

Kamu tak perlu ikut-ikutan soal ini. Biar aku sendiri, balas sang ayah marah.

Bapak semakin kehilangan kebijaksanaannya. Bapak sudah tidak bisa berpikir jernih. Bapak sudah tak bisa diajak untuk terbuka pikiran membicarakan ini baik-baik. Sikap otoriter telah menjelma dalam pikiran bapak.

Kamu semakin lancang terhadap orang tua. Kamu semakin tidak menghargai keputusan orang tua. Dimana tatakramamu?.

Beberapa anggota keluarga di lokasi itu berusaha mendamaikan. Diantaranya mengingatkan agar sang pemuda itu tetap ingat etika. Dia tidak boleh dipengaruhi marah dan tak terkendali.

Anak muda itu justru makin kalap. Emosinya kian menggebu-gebu. Dia bilang:

Bapak mengajarkan aku banyak hal tentang sikap yang baik. Tapi sikap bapak dengan menolak cita-cita anak gadisnya, memusuhi pemikiran-pemikiran yang baik hanya karena pertunangan, adalah contoh yang sempurna untuk sebuah sikap yang buruk. Lalu aku tanya siapa sesungguhnya yang berkepentingan di balik pertunangan ini?.

Apa maksudmu?.

Saat suatu keputusan yang tidak perlu tapi dipertahankan dengan mati-matian, aku hanya menduga satu hal. Keputusan itu pastilah mengandung kepentingan. Jika tidak, itu tak mungkin dipertahankan. Jika dipertahankan, itu hanya keputusan yang bodoh.

Kamu tidak perlu mengajari orang yang sudah setua ini. Saya menentukan keputusan ini dengan sungguh-sungguh. Tak perlu kamu ajari aku seperti itu.

Kita semua bisa salah dalam mengambil keputusan. Jangan lupa, orang tua bukan tuhan. Bapak harus menyadari kesalahan dalam diri bapak. Mengambil keputusan tanpa persetujuan anak gadisnya, mempertunangkan, dan sekarang menghambat keinginan, cita-cita dia untuk kuliah, apakah itu bukan kekeliruan? Apakah mengoreksi kekeliruan itu adalah sebuah kesalahan?.

Kamu hanya memikirkan kuliah-kuliah saja. Satu hal yang kamu lupa: sopan santun. Tata krama. Itu yang didapatkan kamu dari kuliah, kuliah dan kuliah. Kamu dari tadi berbicara dengan siapa? Layaknya berbicara dengan orang yang bukan orang tuanya sehingga tanganmu menuding bebas ke arahku?.

Maaf, aku salah. Soal etika, aku sadar aku salah. Aku masih menyadari kesalahan ini, tapi bisakah bapak menyadari kesalahan sendiri bukan sekedar mampu mengoreksi kesalahan anaknya. Aku perlu katakan lebih jelas: gajah di pelupuk mata tak kelihatan, semut di seberang lautan terlihat terang benderang.

Terserah kamu. Terserah kamu. Aku bersikukuh untuk menikahkannya. Aku rasa itu jalan yang benar.

Malam itu. Kata-kata hanya saling berlompatan seperti bola api. Entah berapa jumlahnya. Tapi sia-sia. Jika ada yang terbakar, ia hanyalah emosi. Kata-kata yang marah tak berkesudahan dengan baik: tak ada saling pengertian yang dirajut. Jika ada yang tersisa, semua itu hanyalah kebencian. Sikap saling merasa benar mengental bersama ego masing-masing. Mereka berlindung di balik kebenaran-kebenaran yang tak menemukan jalan jumpa: sang bapak pergi dengan keyakinannya sendiri. Sang anak pulang dengan perasaan-perasaan sia-sia yang penuh kebencian.

Di tempat yang sunyi, sebuah malam yang dinginnya menusuk-nusuk ke sebuah kamar, perempuan yang dibelenggu perjodohan menulis. Dia sedang memperkirakan kemungkinan-kemungkinan dari melawan. Dia lalu menulis:

Sudah aku persiapkan kesiapan hati, jika karena aku melawan demi pendidikan, bapak dan ibuku tak lagi sudi aku di rumah ini.

Sudah ku siapkan kesedihan jika aku harus memilih pendidikan daripada melanjutkan pernikahan dan kalian tetap tak bisa menerima dengan pengertian.

Jika kalian marah dan memusuhiku, aku tak pernah berpikir sebaliknya. Aku hanya berpikir: tak akan ada permusuhan yang abadi antara anak dan orang tua. Cinta yang sesungguhnya kadang harus diuji lewat kebencian sampai batas mana ia bisa bertahan.

Dia pergi. Semakin lama rumah ini semakin dibakar marah saja. Setiap kali dia mendengar pertentangan pendapat yang mengundang bisik-bisik dari tetangga: rumah ini diisi anak-anak yang berpendidikan. Lihat setiap hari setiap malam, orang tuanya dilawan. Orang-orang menjatuhkan hukuman diam-diam bahwa pendidikan mengajarkan anak-anak melawan.

Saat dia memutuskan untuk pergi, dia berharap semua anggota keluarganya, terutama bapak dan ibunya menyadari bahwa sikap atau pikiran yang otoriter yang berlindung di balik tabir kekuatan sang anak tidak boleh durhaka segera ditimbang-timbang lagi. Harapannya sederhana, dia ingin keluarganya kembali harmonis tapi tanpa mengorbankan dirinya dalam pernikahan yang tidak diinginkannya.

Saat dia pergi, teras itu hening. Dan tempat ini akan terkenang abadi. Kenangan tentang tawa, kelucuan bapak dan ibunya, atau kehangatan cinta timbul tenggelam dalam kenangan.

Teras itu kini sepi. Sejak tiga hari kepergiannya, bapak dan ibunya seperti dua orang yang baru kehilangan harta yang berharga. Mereka mulai menimbang-nimbang: adakah yang salah dari kami mendidik anak-anak?

Mereka tak salah. Yang luput, yang tak dipikirkannya: setiap anak melintasi pengalaman hidup dari suatu zaman yang berbeda dari apa yang mereka lewati. Pendidikan telah menghadirkan banyak kemajuan. Anak-anak zaman kini telah dipengaruhi oleh pengetahuan global. Beberapa kata yang khas dari suatu kebudayaan dari belahan negara lain di dunia telah sampailah dan menyebar ke negara dan daerah lain: kebebasan berpikir, kemerdekaan diri, kemajuan, emansipasi dan sebagainya. Orang-orang tua luput dari menangkap dan memahami perubahan yang cepat dari arus zaman ini. Tinggallah kini sebagai dua orang yang terus bertanya-tanya bingung bercampur sedih: adakah yang salah dari kami mendidik anak-anak kami?

Sore segera berlalu. Pertanyaan tinggal pertanyaan.




Penulis: Sulaiman

Penggiat Diskusi Kebudayaan "INCA" Ciputat

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login