images

okezone.com

iin Suwandi

Member Since 27/09/2016

JANGAN LUPAKAN SEJARAH

Jum'at, 7 Juli 2017

Negeri Indonesia bagaikan surga yang terhampar mulai dari Sabang sampai Merauke. Apa yang mau dicari ada, gas, minyak dan tambang lainnya sungguh melimpah. Ibaratnya tongkat ditancap dalam tanahpun, tongkat itu mesti tumbuh dan bertunas.  Pantas saja Indonesia menjadi rebutan negara-nagara lain yang ada di dunia. Apalagi kalau berbicara tentang bumi Cendrawasih atau Papua. Setiap mata memandang, hamparan hutan belantara. Dan setiap kali tanahnya tersentuh, bongkahan mutiara, biji emas dan tembaga mengalir. 

 Dengan kekayaannya tersebut banyak negara mengincar Papua agar jatuh ke pangkuannya. Misal saja sejak pergolakan Papua yang dikomandoi oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) ingin merdeka maka TNI sebagai institusi negara yang bertugas sebagai pertahanan negara tidak akan membiarkan begitu saja. Karena Papua merupakan bagian dari NKRI NKRI Harga Mati. Sebagaimana dipahami bersama bahwa sejarahnya masuknya Irian Barat (Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah benar sehingga  tidak perlu dipertanyakan dan diutak-atik lagi.  Papua masuk ke dalam wilayah Indonesia yang telah ditetapkan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 silam. Ditambah lagi dengan fakta sejarah menunjukkan keinginan rakyat Papua bergabung dengan Indonesia sudah muncul sejak pelaksanaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 lalu.

Adapun mengenai pihak-pihak yang memutarbalikkan sejarah dan masih menyangkal kenyataan integrasi Papua ke dalam NKRI itu karena  mereka  telah memiliki pamahaman yang sangat minim.  Hal yang perlu disadari adalah bahwa keberadaan negara merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga seharusnya disyukuri dengan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di Papua.

Sebab berdasarkan catatan sejarah, pada 1 Oktober 1962 pemerintah Belanda di Irian Barat menyerahkan wilayah ini kepada Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) hingga 1 Mei 1963. Setelah tanggal tersebut, bendera Belanda diturunkan dan diganti bendera Merah Putih dan bendera PBB.

Selanjutnya, PBB merancang suatu kesepakatan yang dikenal dengan "New York Agreement" untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat Irian Barat melakukan jajak pendapat melalui Pepera pada 1969 yang diwakili 175 orang sebagai utusan dari delapan Kabupaten pada masa itu.  Hasil dari Pepera yang menunjukan semuanya memilih dan menentukan, bahwa Irian Barat tetap berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan selanjutnya PBB dalam sidang Majelis Umumnya tanggal 19 November 1969 telah mengeluarkan resolusi PBB Nomor 2504 yang menegaskan pengakuan PBB atas kedaulatan NKRI, termasuk Irian Barat di dalamnya, maka Pepera tersebut merupakan keputusan yang sudah final dan sah menurut hukum internasional.

             Oleh karenanya kita berharap kepada seluruh bangsa Indonesia agar jangan sekali-kali melupakan sejarah yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Karena sejarah ini merupakan bukti secara de facto maupun de jure tentang kembalinya Papua kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan dasar tersebut TNIsebagai benteng kedaulatan NKRI merupakan modal  pegangan    yang kuat untuk tetap mempertahankan wilayah Papua dari cengkraman kelompok separatis yang ingin mendirikan negara dalam negara. 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login