images

okezone.com

Rosse Hutapea

Member Since 25/04/2016

Ayah dan Ibu, Ayo Bernyanyi Untuk si Kecil

Kamis, 13 Juli 2017
Ayah dan Ibu, Ayo Bernyanyi Untuk si Kecil

Tulisan ini merupakan saduran dari pemikiran seorang pemusik sekaligus pendidik yang sangat tertarik dengan bidang terapi musik. Monica Subiantoro, M.A., demikian namanya, adalah terapi musik berlisensi di Indonesia yang juga adalah staf dan pengajar Terapi Musik di Conservatory of Music Universitas Pelita Harapan. Menyelesaikan pendidikan di Inggris, ia adalah satu dari sedikit terapis musik berkompeten di Indonesia. 


Ide tulisannya diangkat dari sebuah penelitian yang dipresentasikan oleh  Vicky Abad, seorang terapis musik dan peneliti terapi musik dari Queensland, Australia, mengeksplorasi dan merefleksikan peran musik dalam populasi anak usia dini serta identitas musikal orang tua dalam mengasuh anak. Penelitian Abad yang disampaikan dalam sebuah konferensi internasional The 15th World Music Therapy Congress di Tsukuba, Jepang, menginspirasi Monica yang juga hadir sebagai peserta konferensi. 

Berikut ini refleksi Monica Subiantoro mengenai peran terapi musik dan keluarga.

Sudah lama saya tidak menulis, namun kali ini sepertinya tidak terelakkan karena banyak sekali yang masuk ke dalam kepala dan hati saya selama 5 hari terakhir di acara The 15th World Music Therapy Congress di Tsukuba, Jepang. Acara yang diselenggarakan tiap 3 tahun oleh The World Federation of Music Therapy dan kali ini dihadiri oleh lebih dari 2300 peserta, menjadi labuhan dari terapis musik di seluruh dunia beserta profesi-profesi lain yang terkait untuk berkumpul dan berbagi ide, pengalaman, dan rancangan karya di masa depan. Sudah seyogyanya sebagai terapis musik kami senantiasa memperbarui ilmu pengetahuan karena manusia terus berubah, pun demikian pendekatan dalam praktek maupun penelitian terapi musik yang disesuaikan dengan perkembangan jaman. 

Di antara begitu banyak presentasi, baik dalam bentuk presentasi oral, simposium, loka karya, poster, dan round table, ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian saya, terkait dengan kecintaan saya dengan terapi musik dan keluarga. Salah satu di antaranya adalah presentasi dari Vicky Abad, seorang terapis musik dan peneliti terapi musik dari Queensland, Australia, mengeksplorasi dan merefleksikan peran musik dalam populasi anak usia dini serta identitas musikal orang tua dalam mengasuh anak. Ia memulai pemaparannya dengan mengingatkan kembali akan fungsi sosial musik. Fungsi ini jelas memudar sesuai dengan perkembangan teknologi. Musik bukan sesuatu yang dibagikan dan dimiliki bersama-sama lagi. Peran pemutar musik (misalnya kaset atau CD) yang memainkan musik untuk didengarkan bersama-sama, kini dinikmati secara individual melalui handphone atau ipod yang dihubungkan ke earphones.

Dengan meningkatnya budaya konsumerisme, peran musik dalam masyarakat pun terpengaruh. Lagu yang dulunya digunakan ibu untuk menidurkan bayinya, untuk berinteraksi dan merekatkan hubungan dengan anaknya, kini lebih banyak diperhitungkan sebagai cara untuk membuat seorang anak (semakin) pintar. Mozart Effect, misalnya mungkin terdengar familiar bagi anda? Peran musik yang lain, misalnya dalam perkembangan kepercayaan diri, koordinasi fisik, terabaikan karena fokus utama di bidang kognisi. Interaksi musikal dalam bentuk bernyanyi bersama, sahut-menyahut, yang berkembang membentuk kelekatan bayi dan ibunya (dan/atau ayahnya) yang akan mempengaruhi perkembangan emosional dan menjadi tolak ukurnya dalam hubungannya di usia yang lebih dewasa, seolah-olah terlupakan.

Fenomena ini didukung oleh maraknya sosial media yang menyebarkan mengenai hal-hal yang sudah terkemas oleh berbagai opini. Ironisnya, orang tua modern memiliki tendensi mencari informasi melalui sosial media ketimbang menilik lebih jauh hasil sumber terpercaya, misalnya penelitian ilmiah yang diterbitkan. Ketika orang tua meninggalkan intuisi mereka dalam merawat dan membesarkan anak, dan berpindah ke pengetahuan yang sudah berbaur dengan elemen subjektif lain tanpa melihat ke potensi dirinya sebagai seorang makhluk musikal, apakah yang terjadi?

Abad mengingatkan akan peran musik, bukan hanya bagi anak, namun juga orang tuanya. Pada setting Neonatal Intensive Care Unit (NICU), misalnya, terapis musik memfasilitasi interaksi musikal bayi dan ibunya agar bayi lebih tenang (regulasi detak jantung dan pernafasan) sehingga dapat berkembang dengan baik. Tapi manfaat terapi musik tidak berhenti di situ. Sang ibu/ayah yang menggendong, menimang, dan bernyanyi pada bayinya mendapatkan kepercayaan diri ketika ia melihat suatu perubahan pada perilaku bayi. Pada saat bersamaan sang ibu/ayah menemukan (kembali) identitas musikalnya yang mengiringinya memulai peran baru sebagai orang tua.

Wahai ibu dan bapak, apakah anda bernyanyi pada/untuk/dengan anak anda? Baik nursery rhymes, lagu kesukaan, atau nada hasil improvisasi anda; baik merdu maupun sumbang (terlepas siapapun yang mengatakannya); biarlah bayi anda mengenal suara anda. Singkirkan sejenak segala piranti elektronik, ambil waktu dengan bayi anda, bermusiklah bersama, bermain mengeksplorasi nada, tempo, dinamik, timbre, irama, segala elemen yang musik dapat tawarkan, karena semua itu milik anda. Selamat bermusik!



Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • Alibaba

    Alibaba

    17 July 2017 at 14:33:PM

    <a href="https://www.finansialku.com/cara-pencairan-jht-bpjs-ketenagakerjaan/">Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan</a>

  • Alibaba

    Alibaba

    17 July 2017 at 14:35:PM

    <a href="https://www.finansialku.com/cara-pencairan-jht-bpjs-ketenagakerjaan/">Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan</a>