images

okezone.com

KIRIMANOPINI

Member Since 14/09/2016

Islam Sebagai Ideologi Super Power

Selasa, 18 Juli 2017
Jumlah kaum Muslimin saat ini lebih dari satu milyar. Jika anda berjalan mengitari dunia untuk mengadakan studi tentang cara pikir kaum Muslimin yang tinggal di berbagai kawasan, maka anda akhirnya akan sampai pada sebuah kesimpulan; bahwa kaum Muslimin di seluruh sudut dunia memiliki perasaan yang sama, yaitu sejarah kaum Muslimin telah mencapai jalan buntu. Meskipun di sana telah banyak pengorbanan yang dikeluarkan, namun sinar terang dan jalan keluar masih belum terkuak.

Kita semua yakin, bahwa Islam memberikan tuntunan pada setiap saat dan segala situasi. Untuk itu, Islam pasti memberikan solusi yang jelas kepada kita bagaimana kita menghadapi situasi saat ini. Menurut Maulana Wahiduddin Khan, sejarah Islam memberikan dua contoh nyata yang menunjukkan sebuah kekuatan dakwah Islam:

1. Petunjuk pertama tercatat dalam periode awal sejarah Islam yang kita kenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Kita semua tahu, bahwa Rasulullah shallahullahu 'alaihi wasallam dipaksa sebuah kondisi untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah. Mayoritas kaum Muslimin pada saat itu mengikutinya dengan melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Maka dengan begitu, Madinah pada saat itu menjadi pusat dakwah kaum Muslimin. Namun, belakangan berbagai peristiwa telah menjadikan suatu perubahan yang sangat serius. Musuh-musuh Islam di Mekkah mulai melakukan penyerangan bersenjata terhadap kaum Muslimin. Namun, dalam beberapa kali pertempuran yang terjadi antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin, baik itu yang terjadi dalam skala kecil maupun skala besar, keseimbangan dua pihak telah gagal memberikan kebuntuan pada keduanya. Kita saksikan, bahwa saat itu terjadi semacam kebuntuan dalam perjalanan sejarah Islam.

Pada saat-saat yang sangat kritis tersebut, Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya sebuah petunjuk jalan terang melalui firman-Nya:

 

_Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu Kemenangan yang nyata_ (QS: Al-Fath: 1).

Yaitu dengan membuka atmosfir baru yang kondusif untuk aktivitas dakwah dengan menghentikan konflik berdarah. Saat itulah, tepatnya pada tahun ke 6 Hijriah, Rasulullah menandatangani sebuah kesepakatan dengan musuh-musuhnya. Peristiwa tersebut dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah).

Menurut Imam az-Zuhri rahimahullah, perjanjian Hudaibiyah merupakan kemenangan besar dalam catatan sejarah umat Islam. Sebelum itu, jika kaum Muslimin terlibat sebuah konflik dengan rivalnya, kaum musyrikin, maka bisa dipastikan perang segera berkobar. Namun, setelah rekonsiliasi tersebut berlangsung, maka keadaan perang terhenti dan suasana damai mulai bisa dinikmati. Dua kubu yang bersengketa bisa bertemu secara normal, dan atmosfir ketegangan tidak lagi terasa. Interaksi yang demikian secara alami telah memunculkan pertukaran pendapat. Dan kapan saja seseorang ketika mendengar tentang Islam yang ia anggap memiliki kebenaran, maka dengan tidak ragu-ragu ia akan masuk dalam pangkuan Islam. Sehingga dalam jangka dua tahun setelah perjanjian Hudaibiyah tersebut, orang-orang berbondong-bondong masuk Islam.

Menurut Maulana Wahiduddin Khan, pertambahan pemeluk Islam yang sangat banyak secara otomatis telah menjadikan Islam sebagai agama dengan pemeluk mayoritas di jazirah Arab pada saat itu, sekaligus telah menjadikan agama ini sebagai kekuatan dominan.

2. Contoh yang kedua yang sangat terkenal dalam sejarah Islam adalah saat sejarah Islam melalui jalan buntu tatkala bala tentara Tatar (Mongolia) bangkit dengan semangat brutalisme nomadiknya di paruh abad ke 7 Hijriah. Kekuatan Islam pada saat itu dihancurkan secara keseluruhan. Saat itu tampaknya Islam tidak akan lagi mengalami kebangkitan.

Namun, mujurnya kekuatan ideologi Islam pada saat itu tampil dengan semangat yang berkobar-kobar. Pada saat mereka (umat Islam) tidak lagi mampu melawan musuh dengan senjata, mereka kembali menyalurkan energinya secara diam-diam dengan melakukan dakwah di tengah-tengah para penakluk. Aksi dakwah ini membuktikan salah satu diktum Al-Qur'an, bahwa dengan dakwah yang bijaksana dan lemah lembut musuh-musuh Islam bisa berbalik menjadi pendukung dan teman setia. Allah subhanahu wata'ala berfirman:


_Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan, tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka apabila di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia_ (QS: Fushshilat: 34). 

Philip K. Hitti, seorang sejarawan barat mengatakan:
_Agama Islam telah berhasil menaklukan musuh-musuhnya tatkala kekuatan senjata mereka (umat Islam) gagal menaklukannya_.

Pada Abad dua puluh satu ini, sejarah Islam tampaknya mengalami kejadian yang sama, seperti dua peristiwa tersebut di atas. Telah banyak pengorbanan yang kita lakukan dalam berbagai benturan dan konflik dalam usaha mencapai kemajuan Islam.

Kondisi umat Islam akan yang sedemikian akan kembali membaik hanya dengan cara mengikuti cara-cara yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin pada generasi pertama. Imam Malik rahimahullah berkata:


_ Perkara umat ini (umat Islam) tidak bisa diperbaiki kecuali mengikuti apa yang dicontohkan generasi pertama dari umat ini (para sahabat).

Hanya dengan mengikuti cara mereka, maka kaum Muslimin akan mampu memperbaiki situasi yang kini mereka hadapi.

Apabila peristiwa perjanjian Hudaibiyah terjadi kembali, maka kekuatan ideologi Islam akan kembali muncul sebagai kekuatan yang tanpa tanding.

Kaum Muslimin bisa saja ditaklukan kapan saja, namun Islam adalah ideologi super power yang tidak ada ideologi mana pun yang sanggup menaklukannya. Justru sebaliknya, Islam memiliki kapasitas yang handal untuk mampu menaklukan kekuatan terbesar mana pun di dunia dengan cara dakwah. Untuk itu, telah menjadi tuntutan zaman, agar kita semua berusaha membuka koridor-koridor yang memungkinkan bagi terciptanya sebuah ruang yang kondusif untuk menyebarkan ideologi Islam tersebut pada belahan dunia mana pun, sebagai misi pokok Rasulullah ketika diutus oleh Allah:


_Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi Rahmat alam semesta_ (QS: Al-Anbiyaa: 107).

Diperlukan dari kita semua cara terbaik untuk melapangkan jalan kekuatan ideologi Islam dalam rangka dakwah sebenarnya, yaitu yang bisa menambah skala universal. Dengan demikian bisa dipastikan, bahwa ideologi Islam akan bangkit kembali menjadi kekuatan dominan dan penakluk. Pada saat bersamaan kaum Muslimin akan menerima hasilnya, dimana mereka akan menempati posisi terhormat bersama-sama dengan menangnya Islam.


Lihat: Ibnu Abdi Barr, At-Tamhid (XV/292), Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah (IV/170), Umar Quraisyi, Samahatul Islam (hal.124), Shofiurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum (hal.304), Philip K. Hitti, The History of The Arab (hal.488), Maulana Wahiduddin Khan, Islam and Peace (hal. 111-112).


Ditulis oleh: Ilyas Amiruddin Habu (Mahasiswa S2 Bidang Sejarah dan Riwayat di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia).


Buton, 23 Syawwal 1438 H

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • update

    update

    19 July 2017 at 07:35:AM

    MAIN DI W W W . ERAQQ . C O M TDK ADA RUGINYA, AYO BUKTIKAN!! PIN BBM : 2BE32005 FB : POKER ERAQQ