images

okezone.com

Eifel Lee

Member Since 19/08/2017

Meniup Bara Dalam Sekam, Pembakaran Bendera Myanmar dianggap sudah bela Rohingya ...aneh ya

Kamis, 7 September 2017
Sebagai warga negara Indonesia yang coba meneladani sikap Presiden Jokowi,  saya menyesal mengapa sebagian warga negara Indonesia lebih mengedepankan emosi dibanding akal sehat dalam menyikapi sebuah persoalan. Jokowi tak pernah mengajari rakyat Indonesia untuk mudah tersulut emosi. Jokowi memberi contoh dengan sikapnya langsung yang tetap terlihat tenang meskipun mungkin pikiran dan hatinya sedang tidak karu-karuan.

Tentara Myanmar memang kejam terhadap muslim Rohingya. Sebagai bagian dari warga dunia, tentu kita mengutuk krisis kemanusiaan yang menimpa muslim Rohingya. Namun jangan rasa solidaritas kita dilampiaskan dengan perilku yang tidak terpuji yang jutru berpotensi menambah masalah baru.

Konflik yang terjadi di Myanmar bisa diibaratkan sebagai sebuah bara yang berada di dalam sekam yang siap akan membakar apapun yang berada di sekelilingnya. Jangan sampai kita meniup bara dalam sekam tersebut dengan melakukan tindakan yang hanya akan menambah masalah baru.

Kita boleh bersimpati dan melakukan aksi solidaritas membela muslim Rohingya, namun ketika aksi yang kita lakukan sampai berlangsung ricuh bahkan ada pembakaran bendera Myanmar segala, apa ini tidak keterlaluan?

Saya merasa miris mendengar kabar bahwa massa aksi di depan Kedutaan Myanmar melakukan bakar bendera Myanmar. Aksi tersebut dilakukan sebagai pernyataan menolak kekerasan kepada etnis Rohingya. Bendera itu dibakar di tengah-tengah massa aksi yang sejak siang sudah berkumpul.

Kita bakar Bendera Myanmar sebagai bentuk protes kita. Biarkan apinya berkobar sebagai simbol kobaran semangat kita terhadap negara yang tak punya hati nurani, kecam orator dari atas mobil komando, Rabu (6/9).
Kita minta bendera (Myanmar) yang dipajang di Kedubes itu segera dicopot dan segera dipasang bendera merah putih, sambung sang orator.

Meski telah membakar beberapa bendera Myanmar, mereka seolah belum puas. Massa aksi tetap ngotot agar Bendera Myanmar yang masih tegak berkibar di Kedubes Myanmar itu segera diturunkan. Bahkan, sempat terjadi kericuhan. Namun, untuk kericuhan tersebut dapat diredam.

Kadang saya bertanya-tanya, apa dengan aksi bakar-bakaran bendera, akan seketika itu juga menyelesaikan konflik di Rohingya? Apa dengan dibakarnya bendera Myanmar menjadikan Suu Kyi luluh hatinya dan akhirnya memberikan solusi untuk muslim Rohingya?

Justru tidak mustahil aksi bakar-bakar bendera Myanmar telah melukai bangsa Myanmar secara keseluruhan. Banyak masyarakat Myanmar yang tidak tahu menahu urusan Rohingya menjadi tersaikiti hatinya melihat bendera bangsanya dibakar oleh masyarakat negara lain. Kita coba lihat diri kita bagaimana jika kita melihat bendera negara kita dibakar oleh rakyat dari negara lain, apa kita tidak marah?

Jangankan dibakar, insiden bendera terbalik pada penyelenggaraan Sea Games 2017, kita sudah merasa dihina dan direndahkan oleh bangsa Malaysia, bagaimana jika sampai dibakar?

Aksi bakar bendera justru berpotensi menambah masalah baru serta semakin sulit bagi bangsa Indonesia untuk melakukan pendekatan dengan pemimpin Myanmar. Jika Suu Kyi marah melihat bendera Myanmar dibakar oleh rakyat Indonesia, terus tidak mau memberikan akses untuk pemerintah Indonesia dalam memberikan bantuan ke Rohingya, bukankah itu hanya akan menambah derita muslim Rohingya karena tidak mendapat bantuan dari Indonesia?

Selain itu, aksi pembakaran bendera Myanmar juga meletikkan api yang memicu keretakan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Myanmar. Sebagai bagian dari negara ASEAN, hal tersebut tentu sangat merugikan. Bukan mustahil jika retaknya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Myanmar akan memicu konflik antar kedua negara tersebut. Bukankah ini sangat merugikan kita? Konflik yang awalnya hanya terjadi di Rakhine menjadi melebar ke Indonesia.

Jokowi sebagai pemimpin Indonesia telah melakukan tindakan untuk membantu menyelesaikan konflik Rohingya. Sebagai rakyat, kita boleh melakukan aksi, namun jangan sampai ada kericuhan apalagi sampai pembakaran bendera. Kita berdoa semoga upaya Jokowi membuahkan hasil. Toh, aksi yang kita lakukan tidak akan  mempengaruhi pendirian Aung San Suu Kyi. Aksi bakar bendera justru bisa memunculkan masalah baru.

Setelah Jokowi melakukan tindakan dan memberikan contoh kepada rakyat bagaimana menyikapi persoalan, kadang saya heran mengapa masih ada orang-orang yang tidak meneladani Jokowi bahkan justru sering melawannya. Apa memang tujuan dari aksi yang mereka lakukan ini hanya untuk mempermalukan Jokowi di mata dunia?

Sederhananya, kita menuntut Malaysia meminta maaf secara terbuka atas insiden bendera terbalik. Kita mencemooh pemerintah Malaysia. Bagaimana jika nanti Jokowi dituntut minta maaf atas aksi bakar bendera Myanmar oleh rakyat Myanmar? Bukankah itu sama saja mempermalukan Jokowi? Mengapa tidak berpikir sampai itu?SAVE INDONESIA PEACE 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login