images

okezone.com

Member Since 20/09/2017

Tags

Tulisan Lainnya

Maman Lukewarm

Member Since 20/09/2017

Cerbung: Si Anak Yang Disangka Anti Sosial & Meet Up

Rabu, 20 September 2017

Saat di sekolah, terutama setelah liburan panjang, selalu ada orang yang akan bertanya tentang "bagaimana liburanmu?" atau hal yang semacamnya, dan kemudian orang yang ditanya akan jawab dengan "Oh, aku ke sini, kemudian ke sini, dan ke sini", setelah itu yang nanya akan mulai bercerita tentang liburannya, itu hal wajar yang sering dilakukan, semua orang (atau minimal teman sekelasku) kemungkinan besar pernah berbicara dengan topik seperti ini, semua orang ... kecuali aku.

Rewin Pratama, itulah aku, siswa kelas dua SMK jurusan Multimedia, duduk di meja paling belakang sendirian dan ketika aku bilang sendirian, maksudnya benar-benar sendirian, di kiri kananku tidak ada meja lagi dan membuatku jadi orang yang paling belakang di kelasku ... sendirian, aku tidak punya wajah tampan dan juga otak yang pintar, membuatku sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan orang biasanya, namun tidak di kelas ini, kelas yang semua orang (bahkan para guru) sebut sebagai "generasi emas", semua orang di kelasku tampan dan cantik, memiliki nilai rata-rata di atas delapan, dan punya kehidupan sosial yang cerah. Aku bertanya-tanya siapa guru kejam yang menaruhku di kelas ini, maksudku, aku bahkan tidak bisa berbicara dengan orang biasa, aku gemetar saat ditanya "apa kabar", dan sama sekali tidak punya teman sejak kelas 1 SD, jadi mana bisa aku bergaul dengan orang di kelas ini?!

Aku adalah yang biasa disebut dengan sebutan "pemalu", bisa dibilang, aku adalah reinkarnasi iblis yang sifat dasarnya pemalu, aku tidak tahu apakah iblis pemalu itu ada atau kenapa aku seperti ini, namun aku merasa benar-benar gugup ketika berkomunikasi dengan seseorang. 

Keringat selalu mengucur dari dahiku ketika seseorang menatapku (bahkan walaupun sekilas), refleks tercepat tubuhku adalah ketika aku menundukkan kepalaku, dan bicara terbata-bata hanya karena sebuah pertanyaan sederhana. Aku tidak jadi seperti ini karena mau, aku ingin punya teman untuk diajak berbicara, bercerita dan bermain seperti orang-orang di kelasku, aku ingin teman dan karena itu, di tahun ini, aku bersumpah akan mendapatkan seorang teman! Jika targetnya tercapai, maka tujuanku adalah mendapat tiga teman sampai ujung tahun pelajaran ini! Itu adalah  tujuan besar di hidupku!

Namun setelah 4 bulan berjalan jumlah temanku adalah nol.

Dan lebih parahnya, ada rumor yang mengatakan kalau aku seorang anti sosial, rumor itu isinya tentang aku yang tidak pernah bicara pada siapa pun dan tidak peduli pada siapa pun, aku disebut ignoran dan apatis, sosok anti sosial yang tidak peduli dengan orang lain, namun itu salah! Salah besar! Siapa orang yang menyebarkan rumor yang membuatku makin susah untuk berteman?! Aku hanya terlalu gugup untuk bicara dengan kalian!

Rumor ini menghantamku dengan keras, namun ini tidak menyurutkan keinginanku untuk mencari teman, suatu hari, aku mendapat sebuah ilham yaitu kenapa tidak membuat dia menjadi teman sungguhan?  sejujurnya, jumlah temanku adalah 1, namun akan sulit jika mengatakan 1 orang itu teman, karena dia adalah teman online, teman di dunia maya.

Sekitar setahun lalau, aku dan seorang gadis yang aku temui di forum tentang anime (hobiku ini membuatku makin susah mencari teman di kelasku) dengan ID Miria, saat itu kami sedang membahas tentang anime fantasy terbaik, dan akhirnya bertukar pandangan tentang topik tersebut, aku sering lihat Miria online di forum itu dan karena kami sering bertukar pikiran, kami akhirnya akrab, sampai pada titik bertukar pesan via private message di forum.

Dan di sinilah aku.

Duduk di sebuah meja yang walaupun nyaman aku rasa sangat tidak nyaman, dengan tiga cangkir kopi di depanku dan menggunakan sebuah kemeja warna biru yang tidak pernah aku pakai.

Normalnya, aku tidak akan pernah datang ke sebuah kafe. Tempat ini terlalu berat bagiku, maksudku, kerumunan orang ini membuatku sangat tidak nyaman, aku merasa kalau mereka semua melihatku dengan mata sini.

Dengan keringat yang mengucur di dahiku, aku melihat smartphone yang aku taruh di depan meja.

Sudah dua jam

Sudah dua jam aku menahan siksaan ini.

Gadis yang memiliki ID Miria, merupakan orang yang sangat baik dan ramah, dia punya pengetahuan yang sangat luas tentang anime dan memiliki masalah yang sama denganku ... dia juga tidak memiliki teman, saat mengetahui ini, aku merasa diberkahi oleh tuhan, rasanya seperti orang yang terdampar di gurun pasir dan tiba-tiba menemukan oasis.

Kami berjanji untuk berjanji di kafe ini dua jam yang lalu, namun sampai sekarang ....

Apa ... ini cuman iseng? Sebenarnya Miria itu bukan gadis yang tidak punya teman, tapi seorang yang aku kenal?! Seperti teman sekelasku saat kelas satu misalnya?! Dia ingin mengerjaiku dan sekarang, pasti sedang tertawa terbahak-bahak karena melihatku celingak-celinguk seperti orang bodoh!

Aku mengatakan itu agak keras, sampai ... sial! Semua orang melihatku!

Aku dengan cepat menundukkan kepalaku dan berharap kalau semua ini tidak terjadi.

Tunggu, tunggu dulu, tenangkan dirimu Rewin! Miria itu baik, aku yakin dia akan datang, dia berjanji datang menggunakan gaun one-piece berwarna biru, dia pasti datang! Jangan lewatkan kesempatan ini wahai diriku! Berpikir positif!

..... tapi dimana dia?!

Aku menaikan pandanganku sedikit dan melakukan scan di ruangan ini, kemudian melebarkan mataku karena melihat seorang gadis yang seumuran denganku (16 tahun), dengan ciri-ciri yang tepat seperti Miria katakan.

Aku tersenyum lebar seperti orang bodoh, membuat seorang pelayan tersenyum dengan canggung.

Tapi tunggu, apa dia benar-benar Miria?!

Aku kembali melihat sekeliling dan kembali melebarkan mataku ... aku kembali melihat dua orang gadis dengan ciri-ciri yang sama.

Rambut hitam panjang, gaun one-piece, tas tangan warna merah, menggunakan jam tangan di tangan kiri.

Apa ... ini trend terbaru?! Jangan bilang kalau ini gaya terbaru gadis-gadis jaman sekarang?! Jadi, Miria itu benar-benar tidak ada?!

Aku harus pulang!

Tapi tunggu, bagaimana kalau salah satu diantara tiga orang gadis itu Miria?!

Aku mengacak-acak kepalaku.

Aku kembali melihat smartphone yang ada di meja, dari beberapa saat yang lalu, aku mengontak Miria via Private Message, keterangannya menyebutkan kalau pesanku sudah dibaca, tapi kenapa dia tidak menjawab?!

Sial, apa dari awal ini sebenarnya cuman kerjaan iseng seseorang?!

Pemikiran positif dan negatifku terus berperang sampai-

*ciring*

Bel yang dipasang di atas pintu kafe bersuara.

Artinya ada seseorang yang datang, dan saat melihat ke sana ....

Aku melihat dua orang pria seram dengan jaket kulit, dua orang itu berhenti sebentar dan melihat sekeliling, sampai akhirnya lehernya berhenti saat dia melihat seorang pelayan laki-laki, pelayan itu mengangguk dan melirikku sebentar.

Dua orang itu juga membalas dengan anggukan.

Entah kenapa ... aku merasakan firasat buruk.

Dua pria itu kembali berjalan, dan anehnya, mereka berjalan ke arahku, tiap langkahnya terkesan kuat dan membuat jantungku berdetak kencang.

... mereka berhenti di depanku, mengambil sesuatu dari belakang celananya dan ... menodongkan pistol ke arahku.

!

Aku membeku di tempat dan tidak tahu apa yang terjadi, sampai-

Semuanya! Keluar dari ruangan!

Ada seorang pelayan berteriak.

Seketika, semua orang berteriak dengan histeris dan berebut untuk keluar, sementara aku, tidak bisa bergerak karena dua orang ini menodongkan pistolanya padaku.

Jangan bergerak! Angkat tanganmu!

Aku mengangkat tanganku perlahan-lahan.

Anda ditangkap karena ada dugaan kalau anda adalah teroris!

Te-tero-ris?!

Hah?

Te-te-te-te-te-tero-ro-ris?

Eh?

Bersambung ....

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login