images

okezone.com

Retno Suryani

Jalan Depok 1 RT 3 RW 10 Pedurungan Semarang
Member Since 29/06/2016

Dorong UKM Batik Ramah Lingkungan, Tim IbPUD Undip Ajarkan Pengolahan Limbah

Kamis, 12 Oktober 2017
Dorong UKM Batik Ramah Lingkungan, Tim IbPUD Undip Ajarkan Pengolahan Limbah

           

            Batik merupakan salah satu peninggalan budaya nenek moyang bangsa Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009. Karenanya, upaya pengembangan dan pelestarian batik terus dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah Indonesia saat ini. Salah satu bentuk pengembangan dan pelestarian batik tersebut adalah dengan munculnya kelompok UKM-UKM batik di tengah masyarakat seperti UKM batik Katun Ungu dan Mutiara Hasta.

            UKM Katun Ungu (Kawula Tuna Rungu) merupakan paguyuban batik bagi para penderita tuna rungu di kota Semarang yang diketuai oleh Ibu Asna Hatima Hetty. Sementara itu, UKM Mutiara Hasta merupakan lembaga penyelenggara kursus dan pelatihan membatik yang dimiliki oleh Bapak Rujiman Slamet. Anggota UKM Katun Ungu merupakan sebagian binaan dari UKM Mutiara Hasta. Kedua UKM batik tersebut beralamat di Rogojembangan Timur RT 05 RW V Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang kota Semarang. Dalam pengembangannya, kedua UKM batik ini masih menyisakan beberapa persoalan dan tantangan yang harus diselesaikan, seperti misalnya limbah yang belum diolah.

            Hasil pengujian kualitas air limbah batik UKM Katun Ungu dan UKM Mutiara Hasta oleh Laboratorium Lingkungan, Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, menunjukkan tingginya kadar pencemar sehingga jauh melebihi ambang batas yang dipersyaratkan sebagaimana pada Peraturan Menteri KLH No 5 tahun 2014. Karenanya, air limbah batik tersebut harus diolah sebelum dibuang ke lingkungan agar tidak menimbulkan pencemaran dan mengancam kesehatan manusia. Sementara itu, selama ini, kedua UKM tersebut belum melakukan pengolahan air limbah. Air limbah yang muncul sebagai sisa proses produksi langsung dibuang ke lingkungan tanpa melewati proses pengolahan.

            Prihatin dengan kondisi buruknya pengelolaan air limbah tersebut, tim dosen Undip yang diketahui oleh Dr. Budi Warsito, SSi., M.Si dengan anggota Dr. Ir. Endang Purbowati, M.P. serta Sri Sumiyati, ST, M.Si, memberikan penyuluhan tentang pengolahan limbah batik sebelum dibuang kepada UKM Katun Ungu dan UKM Mutiara Hasta melalui program IbPUD. Ipteks bagi Program Unggulan Daerah (IbPUD) merupakan program pengabdian masyarakat dosen dengan pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Sementara itu, penyuluhan dilakukan melalui pemberian penjelasan mengenai pentingnya pengolahan limbah dan efek samping yang ditimbulkan apabila limbah langsung dibuang ke lingkungan. Dalam penyuluhan tersebut, dijelaskan pula berbagai macam proses pengolahan limbah baik secara fisika, kimia, maupun biologis. Selain penyuluhan, dalam program pengabdian tersebut juga dilakukan pembangunan unit pengolahan sebagai proyek percontohan.

            Menurut Dr. Budi Warsito, SSi., M.Si, ketua tim IbPUD, pada proyek percontohan ini, dipilih pengolahan secara biologis dengan pertimbangan keberlanjutan dari program. Kelebihan dari proses ini adalah harga bahan baku yang dijadikan media harganya murah dan mudah mendapatkannya. Dengan demikian apabila program pengabdian telah selesai dilaksanakan, pengolahan limbah tetap dilakukan karena tidak terlalu memberatkan bagi UKM. Sementara itu, media yang digunakan dalam proses pengolahan limbah batik ini meliputi zeolit, kerakal, dan kerikil.

            Pembuatan bak pengolah limbah dilakukan di lokasi pembuangan limbah batik UKM Mutiara Hasta. Desain yang dibuat dan ukuran bak yang digunakan disesuaikan dengan lokasi pembuangan limbah, luas area yang dimiliki, serta volume limbah yang dihasilkan. Limbah cair batik yang semula berada di ember-ember dibuang ke bak penampungan (equalisasi) yang berfungsi  sebagai tempat pengendapan. Selanjutnya dari bak pengendapan limbah dialirkan ke bak pengolahan (filtrasi). Kedua bak berupa tandon besar yang terbuat dari plastik. Pada bak pengolahan inilah media pengolahan secara biologis ditaruh. Bak ini diisi dengan media batu kerikil, kerakal dan batu zeolit. Selanjutnya limbah hasil pengolahan dialirkan ke saluran pembuangan akhir dan dibuang ke lingkungan. Limbah yang dibuang dengan melalui proses pengolahan secara biologis tersebut diharapkan tidak lagi mencemari lingkungan sebagaimana apabila dibuang secara langsung.

            Kegiatan pengabdian masyarakat ini disambut antusias oleh UKM Katun Ungu dan UKM Mutiara Hasta. Ketua UKM Katun Ungu, Bapak Slamet, mengungkapkan bahwa ia dan teman-temannya sangat berterima kasih atas program pengabdian yang diberikan. Hal itu merupakan bentuk kepedulian perguruan tinggi kepada kaum difabel. Sementara itu, pemilik UKM Mutiara Hasta, Bapak Rujiman Slamet, merasa sangat senang dan lebih tenang memproduksi batik karena sekarang limbah yang dihasilkan dari proses produksinya sudah tidak membahayakan bagi lingkungan. Melalui program pengabdian kepada masyarakat ini, kedua UKM mitra merasa percaya diri untuk mempromosikan usahanya sebagai batik yang ramah lingkungan. (RS)

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • Alexandra

    Alexandra

    9 November 2017 at 06:16:AM

    &*BETTING POKER TERPERCAYA!! _)MEMBERIKAN BONUS DEPO+MINGGUAN+BULANAN)(& @#&DAPATKAN JUGA HADIAH LAPTOP/HP/UANG TUNAI SETIAP BULANNYA !!@( (!DAFTAR DAN MAIN SEKARANG JUGA !#)(