images

okezone.com

Member Since 05/12/2017

Tags

Tulisan Lainnya

Rahmawati Apriliani

Member Since 05/12/2017

Travelling: Primer atau Sekunder?

Selasa, 5 2017

Salah satu fenomena yang sekarang ini banyak dibicarakan publik yaitu mengenai pergeseran pola konsumsi masyarakat dari konsumsi non-leisure ke konsumsi leisure.  Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga secara global. Meskipun, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tingkat konsumsi leisure paling tinggi.

Jika kita mengingat kembali saat pertama kali belajar dasar-dasar pelajaran ekonomi di bangku sekolah menengah, kita disuguhkan dengan teori mengenai kebutuhan manusia dalam hidupnya berdasarkan tingkat prioritasnya. Mulai dari yang bersifat primer, sekunder dan tersier. Maka rekreasi atau travelling termasuk ke dalam tingkatan sekunder. Bahkan beberapa kalangan menganggap ini adalah hal yang cukup mewah.

Akan tetapi tampaknya, bila menilik dari data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini, yang melaporkan penurunan tingkat konsumsi barang primer namun peningkatan pada barang sekunder disertai peningkatan nilai tambah pada sektor-sektor leisure, kita mulai berpikir ulang apakah rekreasi ini masih menjadi bagian dalam kebutuhan sekunder ataukah sudah naik kelas menjadi kebutuhan primer. Atau kemungkinan lain, rekreasi menjadi lebih penting dari kebutuhan primer itu sendiri.

Data BPS tersebut menggambarkan penurunan tingkat konsumsi barang pokok dari 62,48 persen pada Q1 2016 menjadi 61,99 persen pada Q3 2007 dan pada periode yang sama peningkatan konsumsi barang sekunder dari 37.52 persen menjadi 38,01 persen. Sedangkan nilai tambah ada pada sektor-sektor, seperti transportasi, restaurant dan hotel.

Dalam sejarah ekonomi Islam, sebenarnya al-Ghazali pun mengemukakan pemikirannya mengenai tingkat kebutuhan manusia ini. Ia membagi menjadi kebutuhan-kebutuhan ini sebagai bagian dari fungsi kesejahteraan sosial dalam kerangka hirarki utilitas individu dan sosial tripartite. Yaitu meliputi, daruriyat (kebutuhan), dimana apabila tidak terpenuhi maka kehidupan di dunia ini akan sia-sia. Lalu hajjiyah (kesenangan atau kenyamanan), sehingga memudahkan dalam pemenuhan kebutuhan dharuri. Kemudian tahsinaat (kemewahan), yang tujuannya untuk memperindah individu dalam melaksanakan sesuatu.

Dalam konteks fenomena ini, cukup sulit untuk dikritisi jika hanya berdasarkan pada teori kebutuhan dasar manusia. Leisure dapat dikatakan penting sebagai bentuk refreshing, pencarian ide, pembelajaran terhadap kultur baru atau yang muncul belakangan ini adalah sebagai eksistensi diri yang biasa diekspresikan dalam berbagai sosial media. Tidak sedikit pula, demi mewujudkan kegiatan travelling beberapa orang rela menabung sebagian besar pendapatannya atau yang lebih ekstrem dengan cara mencari pinjaman.

Sah-sah saja sebenarnya dalam menjadikan travelling sebagai hobi atau sesuatu yang diidam-idamkan. Apalagi dalam rangka mempelajari jejak-jejak sejarah seperti yang dikatakan Allah dalam beberapa firman-Nya untuk berjalan di muka bumi untuk memperhatikan kehidupan orang-orang dahulu. Tujuan lain, kalau boleh meminjam istilah salah satu film layar lebar, yaitu Menjadi agen Islam yang baik.

Kemudian muncul tanda tanya, apakah mereka yang senang dalam melakukan travelling sudah memenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya? Termasuk di dalamnya pangan, sandang dan papan. Kalau hal-hal primer ini sudah terpenuhi, maka bisa jadi tingkat kesenangan hajjiyah didapatkan dengan perjalanan travelling. Jika tidak, bukankah hal-hal dharuriyat sebaiknya dapat terpenuhi terlebih dahulu? Seperti apa yang dikatakan al-Ghazali, jika tidak terpenuhi maka kehidupan di dunia hanyalah sia-sia. Bahkan untuk berhaji pun, sebagai ibadah wajib haruslah mencapai derajat istathoa, yaitu dalam keadaan mampu, baik jasmani maupun materi.

Walaupun begitu, pendapat al-Ghazali ini tidaklah mutlak. Karena ia pun mengatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan dasar cenderung fleksibel mengikuti waktu dan tempat, bahkan di dalamnya terkandung kebutuhan-kebutuhan lain seperti sosiopsikologis.

 

* Penulis merupakan mahasiswa S2 Kajian Timur Tengah dan Islam, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login