images

okezone.com

irsyad muhammad

Member Since 27/12/2017

Keindahan Alam dan Kearifan Lokal Pesisir Pulau Kaledupa

Kamis, 28 2017
Keindahan Alam dan Kearifan Lokal Pesisir Pulau Kaledupa

Perjalanan untuk menjelajah Indonesia di akhir tahun 2017 akhirnya datang. Pada tanggal 23 Desember 2017 dengan terbang menggunakan pesawat yang tujuan akhirnya adalah Wakatobi. Dimulai dari Bandara Udara Juanda di Sidoarjo, transit pertama di Bandara Udara Sultan Hasanuddin Makassar, transit kedua di Bandara Udara Haluoleo Kendari dan akhirnya sampai di tujuan Bandara Udara Matahora Wakatobi. Dengan seorang diri saya Muhammad Irsyad telah menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Wakatobi.

            Wakatobi adalah singkatan dari 4 pulau besar, yaitu Pulau Wangi Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia dan Pulau Binongko. Tujuan utama menjelajah Indonesia kali ini adalah Pulau Kaledupa yang memiliki keindahan alam dan kearifan lokal yang sayang untuk dilewatkan. Untuk sampai di Pulau Kaledupa, terlebih dahulu bermalam di Pulau Wangi Wangi. Pilihan untuk menuju Pulau Kaledupa ada dua pilihan, yaitu dengan menggunkan kapal cepat yang berangkat pukul 10:00 WITA dengan jarak tempuh 2 jam hingga sampai dan kapal kayu yang berangkat pukul 13:00 WITA  dengan jarak tempuh 3 jam hingga sampai.

            Pukul 16:00 WITA sesampainya di Pulau Kaledupa telah menunggu seorang teman lama yang dahulu bertemu di Pulau Jawa. Sebelumnya telah memberi kabar bahwa liburan di akhir tahun 2017 saya akan mengunjunginya. Sesampainya di rumah, telah menyambut dengan hangat orang tua yang juga akan menjadi orang tua saya selama beberapa hari kedepan. Beberapa cangkir teh hangat telah disuguhkan akan diminum bersama dengan saling memperkenalkan diri dengan hangat. Malam harinya keramahtamahan keluarga baru ini mengarahkan pada suguhan makan malam yang nikmat.

                                                                                         

            Senin, 25 Desember 2017 pukul 09:00 WITA jelajah Pulau Kaledupa dimulai dengan tujuan pertama keindahan alam di Ujung Pulau tepatnya di Desa Sombano. Desa yang langsung berbatasan dengan Laut Flores ini menjadi Desa pesisir yang memiliki potensi wisata. Diantara potensi wisata yang telah menjadi kenangan adalah Pantai Taduno dengan pasir putih yang menjadi titik dari ujung Pulau Kaledupa. Danau Sombano dengan air asin yang bisa surut dan naik airnya sesuai kondisi air laut. Gugusan mangrove lebat dinikmati menggunakan sampan yang didayung bersama.

Pasar Sampua Watu menjadi pilihan lokasi singgah sebelum pulang ke rumah. Pasar Tradisional ini memiliki kearifan lokal dengan penjual ikan dari Suku Bajo Sampela yang menjual ikan hasil tangkapannya menggunakan sampan. Akan semakin ramai penjual dan pembeli jika air laut pasang dengan berbagai macam ikan yang dijual dan dibeli. Dengan uang Rp 50.000 yang telah menjadi ikan cukup banyak dengan beragai macam jenis seperti Ikan Kakap Merah, Ikan Kerapuh dan Ikan Simba dalam bahasa Suku Bajo. Ikan ini menjadi oleh oleh untuk Ibu dirumah yang nantinya akan diolah menjadi makanan khas ikan kuah kuning atau dapat disebut Parende.

                                                                              

Memasuki waktu sore hari, perjalanan menuju dataran tinggi Pulau Kaledupa di Desa Pajam. Desa Pajam memang terletak di ketinggian, karena ketika sampai mata jauh memandang terlihat sebelah kanan Laut Flores dan sebelah kiri Laut Banda. Peninggalan sejarah berupa Benteng Kamali yang merupakan Benteng pertahanan Barata Kahedupa pada zaman kerajaan terdahulu. Kaerifan lokal ibu ibu di Desa Pajam dalam menenun sehelai benang menjadi selembar kain menjadi hal yang menarik untuk dikunjungi. Kain tenun yang pada zaman dahulu menjadi penanda dari golongan tertentu sekarang telah menjadi cinderamata. Kain tenun tersebut telah diolah menjadi Shall, Ikat Kepala, Dompet, Tempat HP dan masih banyak lagi.

                                                                                

Menikmati senja untuk mengakhiri hari di Desa Mantigola yang merupakan permukiman Suku Bajo. Suku Bajo adalah Kelompok Masyarakat yang menjadikan lautan sebagai rumahnya. Kehidupan manusia di laut yang telah dilakukan Suku Bajo menjadi kearifan lokal yang menarik untuk diamati. Menggunakan sampan untuk sampai ke perkampungan Suku Bajo Mantigola harus ditempuh. Terletak di sebalah barat Pulau Kaledupa menjadikan perkampungan ini indah untuk menikmati matahari terbenam. Jika rumah didarat kendaraan beroda yang diparkir didepan rumah, berbeda dengan rumah Suku Bajo Mantigola yang terpakir di depan rumahnya adalah kapal kapal kecil atau dalam bahasa lokal disebut ketinting dan bodi batang.         

                                                                                  

 Jika telah berada di Wakatobi, tidak lengkap jika belum melihat keindahan alam bawah lautnya. Pulau Hoga menjadi pilihan untuk menikmati hari ke-2 di Pulau Kaledupa dengan transportasi ketinting untuk mencapainya. Pulau Hoga memang telah terkenal sebagai pulau yang dijadikan destinasi wisata telah dikunjungi wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara dari luar Wakatobi. Beberapa Resort berdiri indah menghiasi Pulau Hoga menambah keindahannya. Snorekling di sekitaran dermaga menjadi aktivitas yang dilakukan untuk menikmati keindahan bawah lautnya, beranekaragam terumbu karang dan ikan dapat kita lihat untuk memanjakan mata. Pasir putih yang mengelilingi pantai ini dengan gazebo sebagai tempat berteduh menambah gaya magnet untuk dikunjungi.

                                                                                 

Pulau Darawa masih dalam wilayah administrasi Pulau Kaledupa tepatnya di Kecamatan Kaledupa Selatan menjadi pilihan terakhir menikmati keindahan alam dan kearifan lokal pesisir Pulau Kaledupa. Ditempuh dengan waktu 2 jam dari Pulau Hoga merupakan waktu yang cukup untuk beristirahat sambil memakan bekal yang disiapkan dari rumah. Pulau Darawa memiliki keindahan alam berupa gugusan gugusan pulau kecil yang saya bisa sebut sebagai Raja Ampatnya Pulua Kaledupa. Jika berada di Pulau Darawa, banyak dijumpai petani rumput laut yang meletakkan hasil panennya di bawah rumah rumah panggung setelah dijemur. Memang pulau ini di huni oleh masyarakat yang pada wilayah administrasi Desa Darawa. Keindahan bawah laut di sekitaran Pulau Darawa yang menjadi batas antara laut dalam dengan tubir memiliki keanekaragaman terumbu karang dan ikan.

Rabu, 27 Desember 2017 Perjalanan di Pulau Kaledupa harus diakhiri, berat rasanya meninggalkan kenangan dan jejak yang indah. Terimakasih dan maaf menjadi kata yang kuucapkan untuk kawan dan keluarga yang memberikan tempat tinggal sementara. Dengan berat hati dan tidak bisa berjanji untuk bisa mengunjung lagi Pulau Kaledupa saya ucapkan dalam hati ketika kapal kayu yang menuju Pulau Wangi Wangi berangkat meninggalkan Pulau Kaledupa pukul 05:30 WITA. Dari atas kapal kayu kulambaikan tangan untuk kawan yang menjadi penanda berakhirnya perjalanan menikmati keindahan alam dan kearifan lokal pesisir Pulau Kaledupa.    

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login
  • kerupukabc

    kerupukabc

    29 December 2017 at 09:40:AM

    Sangat disayangkan beberapa gambar tidak bisa terlihat, hanya gambar utama yang terlihat. Dari cerita yang telah saya baca, seru sekali aktivitas di Pulau Kaledupa. Salah satu keseruanya bisa melihat permukiman Suku Bajo, di depan rumah mereka terpakir perahu - perahu berbeda dengan Jawa yang setiap rumahnya diparkir kendaran beroda.