images

okezone.com

Ilham Nur Hidayatullah

Member Since 29/04/2017

Bunga Revolusi Bung Karno

Jum'at, 5 Januari 2018
Bunga Revolusi Bung Karno

Dalam proses Bung Karno menjadi seorang Proklamator yang berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu generasi atau bahkan suatu bangsa, tentu banyak orang orang yang terlibat aktif dalam meramu kepriadiannya. Baik itu orang tua yang menanamkan sedari awal pola komunikasi dan pola sikap, ataupun guru yang mencoba mencerdaskannya supaya dapat berpikir rasional,  atau bahkan seorang perempuan yang senantiasa mendampinginya dan menjadi tonggak perjuangan. Perempuan yang dalam hal ini menjadi Bunga Revolusi bagi Bung Karno.  

Dari sekian orang yang terlibar dalam meramu kepriadian Bung Karno, peran perempuan mempunyai pengaruh yang khas, Sebagai orang yang selalu ada untuk melayani dan membersamai. Posisi ini sangat berpengaruh terhadap kepribadian dan perjuangannya. karena dibalik kesabaran dan ketangguhaannya, ada seorang perempuan yang senantiasa memberikan kekuatan dan kesabarannya.

Inggit Garnasih menjadi seorang peremuan yang mempunyai andil besar dalam menjadinya Bung Karno sebagai seorang Proklamator. bagi Soekarno, Inggit tidaklah hanya sebagai seorang Istri, tetapi juga seorang Ibu, Kekasih, dan Kawan. Inggit telah menunjukan dirinya sebagai seorang perempuan. Kata perempuan berasal dari empu yang artinya orang yang menempa dan membentuk.

Didalam pelukan Inggit dan kasih sayang, Bung karno menjadi, dan didalam cintanyalah Bung Karno tumbuh. Inggitlah yang berjalan disamping Bung Karno, sewaktu dia sebagai satria muda mulai masuk kedalam gelanggang perjuangan, bercahaya, dan kuat laksana mentari pagi yang keluar dari bukit gunung yang hitam membiru. Inggit menempa Bung Karno menjadi pemimpin dan menemaninya didalam perjuangan untuk mewujudkan cita citanya menuju Indonesia merdeka.

Romantika Ke Dinamika

Pertemuan Inggit dan bung Karno menyisakan alur sejarah yang sarat akan romantika. berawal dari bung Karno yang melanjutkan Studi ke Technische Hoogeschool ( THS )  bertempat di Bandung, sekarang dikenal dengan Institute Teknologi bandung ( ITB ). Di Bandung Bung Karno tinggal bersama Sanusi suami dari Inggit Garnasih. Bung Karno tinggal bersama sepasang suami istri yang keduanya sama sama pengusaha dan berlatar belakang anggota Serikat Islam.

Sejak pertama kali Inggit bertemu dan bersalaman, Bung Karno dipandangnya sebagai seorang pemuda yang menyenangkan. Ia gampang bergaul dan mau menerima apa yang Inggit hidangkan dengan roman muka yang mengembirakan. Ia benar benar orang yang periang. Ia seorang intelektual muda yang sangat Inggit segani, kedatangannya menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi.

Semenjak Bung Karno tinggal dirumag Inggit, hubungan keduanya sangatlah akrab apalagi Inggit yang sering ditinggal suaminya keluar rumah, dengan kondisi Inggit yang seperti itu, maka kehadiran Bung Karno mejadi pengisi kesehariaan Inggit. Terkadang keduanya terlibat dalam pembicaraan yang lebih mengarah kepada  curahan hati. Bung Karno yang terkadang sering mengeluhkan hubungannya dengan Istrinya yaitu Utari yang sedari awal menikah belum pernah disetubuhi karena Bung karno menganggap Utari sepertihalnya adiknya.  

Kedekatan Bung Karno dan Inggit menimbulkan hal yang tidak biasa. Didalam hati keduanya tumbuh rasa untuk saling mecintai dan memiliki, sehingga pada suatu malam keduanya terlibat dalam luapan asmara. Kejadian malam itu berbekas didalam benak keduanya, sehingga Bung Karno dengan keteguhan hatinya mencoba mengutarakan niatnya unuk mengawini Inggit, dan Inggit menyambut baik akan hal itu, tentu dengan Konsekuensi yang harus di hadapi.

Bung Karno harus menyelesaikan persoalannya terlebih dulu dengan Utari selaku istrinya dan HOS Tjokroaminoto selaku mertuanya. Karakter Bung Karno yang karismatik dan pola komunikasi yang santun dan berisi membuat Tokoh sekeliber Tjokroaminoto mampu diluluhkannya dan niatnya menceraikan utaripun disetujuinya tanpa harus mertuanya marah apalagi memukul Bung Karno akan tetapi mertunya mengerti dan mombolehkannya. Entah cara komukasi Bung Karno bagaimana, ? Bung karno tidak hanya jago dalam hal Diplomasi Politik akan tetapi dalam hal mendiplomasikan cintapun beliau tetap jago.

Selesai persoalan yang satu, Bung Kano harus menghadapi persoalan lain yaitu beribicara dengan Kang Uci selaku suami dari Inggit. Kang ucipun sama, hatinya berhasil diluluhkan oleh Bung Karno, itu terbukti ketika selanjutnya kang Uci berbicara dengan Inggit, diluar dugaannya kang Uci sudah memahami maksud Inggit, tidak hanya itu Kang Ucipun berujar kepada Inggit

Kalau Inggit menerima lamaran Kusno dan kalian berdua menikah. Mari kita jagokan dia sehingga dia nanti benar benar menjadi orang penting. Mari kita bantu dia sampai benar benar menjadi pemimpin rakyat . Dampingi dia, bantulah dia, sampai benar benar mencapai cita citanya sekali lagi entah cara komukasi Bung Karno bagaimana, ?

Setelah semua persoalan dihadapi bersama bersama, akhirnya sehabis Idah Inggit menikah dengan Bung Karno. Inggit menyadari pernikahannya dengan Bung Karno membawa kewajiban kewajiban yang baru dalam keadaan yang baru pula. Pada suatu sore Inggit termenung dan terlintas dalam pikirannya

Mengapa aku sampai berani menikah dengan kusno yang dalam banyak hal berbeda jauh denganku ? kembali aku ingat kepada umurku dan umurnya, jomplang. Tetapi, bukankah Siti Khadijah juga lebih tua dari pada nabi muhammad ? pendidikannyapun jauh lebih tinggi dari pada pendidikanku. Aku cuman mendapat pendidikan madrasah. Tetapi, bukankah sebelum ini suamiku pernah menjelaskan bahwa yang penting itu bukan jenjang sekolahan : melainkan kematangan jiwa ? sudahlah pasti otaknya lebih unggul dari otakku. Tetapi, apakah jiwanya sudah begitu  

Pernikahannya dengan Bung Karno memberikan arti hidup yang sarat akan makna perjuangan. Lelah dan sabar Inggit di peruntukan untuk perjuangan Bung Karno. Inggit selalu ada untuk melayani keseharian Bung Karno. Dalam Ungkapannnya Inggit sampaikan Kerjaku adalah membangunkan suamiku, mengingatkan waktu sembahyang, menyiapkan kopi tubruk dan sarapan. Mendorongnya untuk maju, menantinya dengan segala perasaan orang yang menungggu, menyatakan kasih sayangku, memuaskannya

Di samping itu Inggitpun menyadari hidup serumah bersama Bung Karno/Kusno tak beda dengan bersekolah. Dengan secara gamblang Inggit di didik olehnya dan oleh percakapan-percakapan dengan teman-temannya, ditarik kedepan, sehingga mengetahui banyak hal tanpa menghafal seperti anak sekolah.

Bunga Revolusi

Banyak hal yang Inngit berikan untuk perjuangan Bung Karno dari mulai Ekonomi, yang pada waktu itu Bung Karno yang secara ekonomi masih menerima kirimin uang dari Sukarmini, yang sudah jadi nyonya puguh, atau dari ayahnya sendiri. Namun , itu cukup hanya untuk kebutuhan sekolahnya. Maka Inggit coba membuat bedak dan menjahit pakaian untuk menghidupi kebutuhan rumah tangganya.

Inggit tahu pikiran Bung Karno darinya sendiri bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila istri merupakan perpaduan dari seorang Ibu, Kekasih dan seorang Kawan. Bung Karno ingin di Ibui oleh teman hidupnya. Kalau pelik, ia ingin supaya aku memijatnya, mengurutnya. Kalau lapar, ia ingin makan kesukaannya yang aku masak sendiri. Kalau kancing bajunya lepas, ia ingin aku memasang kancing itu kembali.

Dalam membersamai Bung Karno berjuang Inggit tidak letih-letihnya untu tetap sabar dan tangguh. Kertika Bung Karno dipenjara disukamiskin, Inggit tetap menjenguk, merawatnya menyampaikan pesan-pesan politik Bung Karno kepada teman-temannya. Ketika Bung karno di asingkan ke Endeh dengan setia Inggit membersamainya tidak hanya itu, Inggit rela menjual rumahnya untuk kehidupannya dengan Bung karno selama Di Endeh. Tidak hanya cinta yang Inggit kasih untuk Bung Karno, harta yang dimilikinyapun Inggit relakan untuk perjuang dalam meraih cita- cita kemerdekaan.

Inggit layaknya Bunga bagi Bung Karno, ke indahannya menjernikah pandangan Bung Karno dalam berjuang, aroma mewanginya menjadi pasokan semangat bagi Bung Karno. Bunga itu tumbuh mengiringi Tumbuhnya yang sosok Proklamator. 

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login