images

okezone.com

F Dikria

Member Since 08/02/2018

JALAN TENGAH KEPEMIMPINAN HMI

Sabtu, 10 February 2018
JALAN TENGAH KEPEMIMPINAN HMI

Oleh: Idris Pua Bhuku*

Nurcholish Madjid kemudian kita panggil Cak Nur membagi kepemimpinan menjadi dua tipe: solidarity maker dan problem solver. Kepemimpinan dengan tipe solidarity maker adalah pemimpin yang mampu membina persatuan dari elemen-elemen yang ada di dalam sebuah komunitas tertentu. Tipe kepemimpinan kedua, problem solver yaitu pemimpin yang mampu menganalisa setiap permasalahan untuk kemudian dicarikan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara rasional dan realistis.

Untuk tipe kepemimpinan solidarity maker, Cak Nur mencontohkannya kepada sosok kepribadian Bung Karno, sedangkan untuk tipe kepemimpinan problem solver, Cak Nur menisbatkannya kepada sosok Bung Hatta. Keduanya adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, bapak bangsa yang telah menanamkan pijakan-pijakan dasar bagi kita untuk berbangsa dan bernegara secara mandiri dan berdaulat.

Masing-masing dari kedua tipe kepemimpinan tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, penulis menilai bahwa jika dua tipe kepemimpinan tersebut jika diwujudkan dalam satu kesatuan, maka akan menghasilkan sistesa ideal bagi seorang pemimpin. Ia integral menyatu dalam satu kepribadian, tidak terpisah antara satu dengan yang lainnya.

Kongres HMI dan Pemimpin Masa Depan

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam jangka waktu terdekat di bulan ini akan melaksanakan kongres ke-30 di kota Ambon. Kita semua berharap, dari momentum dua tahunan tersebut akan menghasilkan gagasan-gagasan besar serta terpilih sosok pemimpin yang terbaik bagi kemaslahatan dan kemajuan himpunan.

Dalam kaitannya dengan tipe kepemimpinan yang disebutkan di atas, ada baiknya kita mencoba untuk memilah dan memilih pemimpin yang mampu menyatukan potensi Sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki HMI. Mengingat, bahwa di dalam tubuh himpunan, secara faktual, terdapat kelompok-kelompok yang secara pemikiran politik berbeda-beda. Hal itu adalah fakta yang tidak bida kita pungkiri.

Dari itu, karakter kepemimpinan solidarity maker sangat dibutuhkan untuk dapat menyatukan ragam perbedaan faksi yang ada. Yaitu pemimpin yang berfikir inklusif, memiliki keterbukaan untuk melakukan upaya komunikasi secara persuasif serta konsolidasi organisasi secara masif untuk mencari titik temu dari setiap perbedaan tersebut.

Pandangan dan pilihan politik yang berbeda itu hal yang wajar. Pemimpin yang memiliki watak keras, tertutup, serta bertangan besi bukanlah solusi untuk menghadapi problem ini. Namun di tangan pemimimpin yang berpikiran terbuka dan berkepribadian solidarity maker tentu perbedaan faksi yang ada di tubuh himpunan ini akan menjadi potensi besar bagi kemajuan himpunan.

Di sisi lain, HMI memiliki peran untuk memperjuangkan tujuan sucinya, yaitu membina insan cita dan mewujudkan masyarakat madani. Dalam usaha untuk mewujudkannya, tentu jalan yang ditempuh tidaklah mudah; ada kalanya terjal dan berliku. Pasti ada halangan, rintangan dan tantangan yang harus dihadapi untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya. Di sinilah dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kepribadian  problem solver. Yaitu pemimpin yang memiliki kejernihan daya nalar serta ketenangan jiwa dalam menghadapi setiap permasalahan yang ada.

Jadi, baik solidarity maker maupun problem solver keduanya harus dimiliki oleh pemimpin yang akan menakhodai himpunan ini. Jangan sampai kita salah pilih pemimpin yang memiliki karakter problem maker (pembuat masalah). Naudzubillah!!!

*Penulis adalah Ketua PB HMI Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan 2016-2018 dan Kandidat Ketua Umum PB HMI 2018-2020

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login