images

okezone.com

Member Since 08/08/2018

Tulisan Lainnya

Akhmad Faizal Reza

Member Since 08/08/2018

Belajar Bersyukur Dari Seorang Irfan Hafiz

Rabu, 8 Agustus 2018

"Tidak ada yang menghentikan seseorang yang menginginkan sebuah pencapaian. Setiap hambatan hanyalah sebuah latihan untuk mengembangkan otot prestasinya. Ini memperkuat kekuatan pencapaiannya Thomas Carlyle

Jika sengaja menghitung, dari sejak bangun tidur hingga beranjak tidur kembali, tak terhingga keluhan demi keluhan yang tercetus dalam benak kita. Sebaliknya, rasa syukur ibarat barang langka yang sulit kita temukan dalam keseharian.

Masalahnya, telah terjadi pergeseran nilai di dunia yang bergerak sangat cepat dan serba hedonistik ini. Rasa syukur dikonotasikan sebagai sikap yang cepat puas, nrimo atau pasrah. Sementara keluhan adalah kebalikannya. Sikap yang tidak cepat puas, tidak pernah merasa cukup dan mendambakan pencapaian yang lebih tinggi lagi.

Dengan perubahan mindset seperti ini, maka manusia menjelma menjadi individu yang egoistis, selalu mengejar kenikmatan dan menjadikan sarana-sarana duniawi sebagai katarsis bagi jiwanya. Sayangnya, upaya pencapaian yang tak henti-hentinya ini membuat keluhan menjadi makanan sehari-hari.

Keluhan atau sikap mengeluh datang ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Ada jarak antara das sollen dengan das sein. Dan jarak atau jurang ini semakin melebar dan menimbulkan kehampaan dalam jiwa manusia.

Mereka mengeluhkan beragam persoalan. Mulai dari pekerjaan yang tidak cocok, gaji kurang, rumah kecil, tidak memiliki mobil hingga keluhan remeh temeh lainnya. Bahkan perubahan cuaca, seperti hujan dan sinar mentari yang terik menjadi sumber keluh kesah mereka.

Pepatah yang mengatakan, manusia tempatnya mengeluh memang benar adanya. Sifat ini bahkan disitir dalam Al-Quran bahwa "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" (QS. Al Ma`aarij :19).

Penulis, sendiri adalah orang yang sering mengeluh. Mengeluh karena realitas tidak sesuai dengan cita-cita ketika di bangku kuliah dahulu. Mengeluh karena pekerjaan tidak sesuai dengan passion. Mengeluh karena harus berangkat sangat pagi dan menempuh jarak yang jauh untuk mencapai tempat kerja, belum ditambah kemacetan serta seabreg keluhan lainnya.

Untungnya dunia  tidak kekurangan stok sosok-sosok kuat yang membuat keluhan kita menjadi soal cemen belaka. Cobalah baca biografi Helen Keller. Di usia 19 bulan, ia diserang penyakit yang menyebabkannya buta dan tuli. Apakah Ia meratapi nasib hidupnya ? Tidak ! Ia membuktikan kendala fisiknya sebagai tantangan. Ia kemudian menjadi aktivis politik, dosen bahkan penulis terkenal. Bahkan bukunya The World I Live In dan The Story of My Life menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan ke dalam 50 bahasa.

Masih kurang ? Coba kita lihat hidup Nick Vujicic. Lahir di sebuah rumah sakit di Kota Melbourne pada 4 Desember 1982, Nick lahir tanpa dua lengan dan dua kaki. Menurut dokter yang menanganginya, Nick terkena penyakit Tetraamelia yang sangat langka.

Hal ini membuat ayah Nick (seorang pemuka agama dan programmer komputer) dan ibu Nick (seorang perawat) bertanya-tanya dalam hati, kesalahan besar apa yang telah mereka perbuat hingga putranya terlahir tanpa anggota-anggota tubuh.

Apakah Nick menyerah ? Tidak ! Selain memperoleh gelar Sarajana Ekonomi bidang Akuntansi dan Perencanaan Keuangan. Nick juga mengembangkan lembaga non-profit Life Without Limbs (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh), yang didirikan ketika Ia menginjak usia 17 tahun. Dan sekarang Nick menjadi seorang motivator Internasional yang telah berkeliling ke lebih dari 24 Negara (dictio.com).

Lalu, beberapa minggu lalu, saat penulis tidak sengaja browsing di Facebook, ada link yang mengarahkan penulis pada sebuah video klip pendek yang diunggah Project Nightfall dan Nash Daily. Video tersebut menceritakan seseorang bernama Irfan Hafiz. Mungkin sebagian besar dari kita belum pernah mendengarnya.

Pemuda asal Srilanka yang lahir pada 28 Agustus 1981 ini terlihat sedang berbaring di ranjang. Awalnya penulis pikir, Ia memang sedang berbaring di tempat tidurnya. Namun, ternyata Ia sudah berada dalam kondisi tersebut selama 19 tahun ! Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Irfan didiagnosa mengidap penyakit langka Duchenne Muscular Dystrophy (DMD) semenjak usianya baru 4 tahun. Penyakit langka ini belum diketemukan obatnya hingga sekarang. Dokter yang memeriksanya memprediksi usia Irfan tidak akan lebih dari 18 tahun.

Namun, prediksi dokter meleset. Irfan mampu bertahan bahkan riwayat hidupnya dapat dirangkum dalam satu kata, luar biasa ! Irfan dijuluki sebagai The Most Inspiring Man karena mampu menulis dengan satu jari telunjuknya. Dengan hanya satu jari tersebut, Ia menghasilkan tiga karya buku dan akan segera menerbitkan bukunya yang ke empat. Ketiga buku tersebut ditulis di tempat tidurnya melalui sebuah handphone. Tiga buku tersebut adalah Silent Struggle, Moments Of Merriment dan Silent Thoughts.

Seusai melihat video berdurasi 3 menit tersebut, penulis merasa speechles. Keluhan-keluhan yang selama ini tercetus dalam benak atau bahkan terujar dari bibir seolah tak berarti. Yang paling menggugah dari Irfan adalah perjuangan hidupnya. Ia senantiasa bersyukur dan tidak mengeluh dengan apa yang menimpanya. Pada video lainnya, Irfan menyebut bahwa kekuatan yang Ia miliki karena Ia yakin dengan Tuhan dan agamanya.  Irvan berkata bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah mengajarkannya untuk tetap bersabar dan tetap bersyukur dengan semua anugerah-Nya.

Tapi Tuhan sepertinya lebih sayang kepada Irfan. Baru-baru ini penulis mendapat kabar, bahwa Irfan wafat pada 25 Juli 2018 lalu. Apa warisan yang Ia tinggalkan untuk kita ? Buku serta video riwayat hidupnya sudah di tonton lebih dari 20 juta orang akan selalu menginspirasi. Lebih dari itu, Irfan telah mengajarkan bahwa di tengah kesulitan, hambatan bahkan cacad fisik yang dialaminya Ia tidak mengeluh dan tidak pernah kekurangan rasa syukur. Irfan adalah teladan dan motivator dalam artian sesungguhnya.

Dus, sekarang terserah kita, kapan mulai mensyukuri anugerah hidup ini ? Dengan indera yang masih lengkap dan bisa beraktivitas normal, tidak ada alasan untuk selalu mengeluh. Perkara satu atau dua keinginan kita tidak terkabul dalam hidup ini adalah persoalan biasa saja. Penulis ingat kata-kata Imam Ali karramallahu wajhah,  apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi.


Referensi :

https://www.dictio.id/t/jangan-biasakan-mengeluh/1704

https://www.colombotelegraph.com/index.php/irfan-hafiz-the-indefatigable-silent-fighter-whom-the-nation-lost/

Berikan Komentar Anda

Login untuk komentar

Login